Gaya Main Manchester United Berubah: Menang Dengan Sedikit Possession, Lebih Agresif, Lebih Berani!

Manchester United tampil lebih efektif saat tidak mendominasi bola di era Ruben Amorim. Pendekatan direct ini bekerja, tapi bukan berarti tidak menyisakan tantangan ke depan.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 07 November 2025, 17:17 WIB
Mason Mount diberi ucapan selamat setelah mencetak gol pembuka timnya dalam laga Liga Inggris antara Manchester United dan Sunderland di Old Trafford, 4 Oktober 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Liputan6.com, Jakarta Sepuluh laga telah dimainkan Manchester United di Premier League musim 2025/26, dan pola permainan tim mulai terlihat jelas. Ruben Amorim tetap menggunakan formasi dasar 3-4-3 seperti musim lalu, tapi sejumlah penyesuaian kecil di balik layar mengubah cara tim ini bermain.

Pola permainan MU kini lebih cepat, lebih direct, dan lebih fokus memanfaatkan ruang ketimbang membangun serangan dari belakang secara perlahan.

Amorim bahkan menekankan bahwa timnya tidak harus selalu memulai serangan dengan penguasaan bola panjang. Ketika ditanya sebelum hasil imbang 2-2 melawan Nottingham Forest, ia menyebut bahwa gaya bermain yang tepat tergantung situasi.

Ucapan itu memberi petunjuk penting, bahwa United tengah bertransformasi menjadi tim yang mengutamakan efisiensi dalam menyerang.

Menariknya, data menunjukkan tren yang konsisten. United meraih hasil lebih baik ketika mereka tidak menguasai bola. Fenomena ini tidak hanya terjadi musim ini, jejak pola ini bisa ditelusuri hingga beberapa tahun lalu, sebelum kedatangan Amorim.


Strategi Utama: Serang Cepat, Lalu Kendalikan Ritme Pertandingan

Selebrasi Bryan Mbeumo dalam laga Premier League antara Manchester United vs Brighton, Sabtu (25/10/2025). (AP Photo/Dave Thompson)

Amorim menjelaskan bahwa tujuannya adalah mencetak gol secepat mungkin saat ruang tersedia.

Ia melihat situasi berdasarkan jumlah pemain yang terlibat dan kesesuaian karakter pemainnya. Dengan Ben Sesko, Matheus Cunha, dan Bryan Mbeumo sebagai trio depan yang kuat dalam transisi, momentum serangan cepat menjadi aset.

Contoh jelas terlihat saat United mencetak gol cepat melawan Liverpool di Anfield. Setelah perebutan bola di tengah, Bruno Fernandes langsung membaca ruang kosong di belakang garis pertahanan lawan.

Umpan cepatnya mengalir ke Amad di sisi kanan, lalu diteruskan kepada Mbeumo. Hanya butuh beberapa sentuhan, United langsung unggul.

Setelah unggul, United tidak berupaya mendominasi bola. Mereka bertahan kompak, sementara Liverpool semakin menekan dan membuka ruang di belakang.

Amorim memandang kontrol permainan bukan pada jumlah operan, tetapi pada cara tim mengatur posisi, jarak, dan tekanan terhadap lawan.

Pendekatan ini akan tampak berbeda dari tim-tim yang lebih memprioritaskan penguasaan bola, namun sejauh United mampu membatasi kualitas peluang lawan, pendekatan tersebut tetap memberi hasil.


Kesamaan dengan Era Sebelumnya

Amad Diallo menyumbangkan satu gol saat Manchester United memetik kemenangan 3-2 atas Real Betis pada laga pramusim di Snapdragon Stadium, San Diego, California, Kamis (1/8/2024) pagi WIB. (AFP/Orlando Ramirez / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP) 

Pendekatan permainan direct dan cepat bukan hal baru di Manchester United. Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Erik ten Hag pada periode tertentu juga mengandalkan kekuatan transisi sebagai senjata utama.

Lanjut Baca:

Alasan yang sama berlaku, bahwa karakter skuad United memang cocok untuk menyerang ruang, bukan mengontrol pertandingan melalui sirkulasi bola. Namun ada masalah yang juga pernah muncul di era-era tersebut. Ketika menghadapi lawan yang bertahan dalam blok rendah dan tidak membuka ruang, United sering kesulitan menciptakan peluang bersih. Ketergantungan pada kecepatan transisi membuat mereka kurang efektif saat harus sabar membangun serangan. Amorim menyadari ini. Ia sendiri pernah menekankan bahwa bermain cepat tidak boleh berarti bermain terburu-buru. Setelah mencetak gol, tim sering kehilangan struktur karena terlalu fokus mempertahankan keunggulan. Ini membuat lawan mampu naik tekanan dan mengambil alih momentum. Untuk mengatasi itu, kualitas penguasaan bola perlu dikembangkan. Dan di titik ini, peran pemain yang mampu membangun dari belakang menjadi penting.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya