Putra Moammar Gadhafi Dapat Segera Bebas Setelah Lebanon Cabut Larangan Bepergian dan Kurangi Uang Jaminan

Apa yang membuat putra Moammar Gadhafi ditahan di Lebanon? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 November 2025, 13:21 WIB
Hannibal Gadhafi, putra pemimpin Libya yang digulingkan, Moammar Gadhafi. (Dok. Abdel Magid al-Fergany/AP)   

Liputan6.com, Beirut - Otoritas Lebanon telah mencabut larangan bepergian dan menurunkan jumlah uang jaminan bagi putra mendiang pemimpin Libya, Moammar Gadhafi, sehingga membuka jalan bagi pembebasannya. Keputusan ini disampaikan oleh pejabat kehakiman Lebanon dan salah satu pengacara Hannibal Gadhafi pada Kamis (6/11/2025).

Langkah tersebut diambil hanya beberapa hari setelah delegasi pemerintah Libya berkunjung ke Lebanon dan melaporkan adanya kemajuan dalam negosiasi terkait pembebasan Hannibal Gadhafi.

Pada pertengahan Oktober lalu, seorang hakim Lebanon sempat memerintahkan pembebasan Hannibal dengan uang jaminan sebesar USD 11 juta, namun dengan syarat ia tidak boleh meninggalkan wilayah Lebanon. Kala itu, tim pengacara menyatakan bahwa klien mereka tidak memiliki cukup dana untuk membayar jumlah tersebut dan mengajukan permohonan agar larangan bepergian dicabut supaya ia bisa meninggalkan negara itu.

Kini, keputusan terbaru pengadilan menurunkan uang jaminan menjadi 80 miliar pound Lebanon atau sekitar USD 900.000 serta mencabut larangan bepergian. Menurut keterangan tiga pejabat kehakiman dan satu pejabat keamanan Lebanon, artinya Hannibal Gadhafi dapat segera meninggalkan Lebanon begitu ia membayar jaminan tersebut.

Keempat pejabat itu, yang berbicara kepada media dengan syarat anonim sesuai aturan, mengatakan bahwa Hannibal Gadhafi telah memutuskan untuk meninggalkan Lebanon setelah proses pembebasannya rampung. Mereka menambahkan, keluarganya akan menyusul setelah ia tiba di negara tujuan.

"Kami baru saja diberitahu dan akan membahas masalah ini," ujar salah satu pengacara Hannibal Gadhafi, Charbel Milad al-Khoury, kepada The Associated Press saat dimintai tanggapan mengenai keputusan pengadilan tersebut.

Otoritas Lebanon diketahui telah menahan Hannibal Gadhafi selama 10 tahun tanpa pengadilan atas tuduhan menyembunyikan informasi terkait hilangnya seorang ulama Lebanon puluhan tahun silam.

Hannibal Gadhafi, yang ditahan sejak tahun 2015, dituduh mengetahui atau menyembunyikan informasi mengenai nasib Moussa al-Sadr, seorang ulama Syiah Lebanon yang menghilang dalam perjalanan ke Libya pada tahun 1978. Namun, pada saat kejadian itu, Hannibal masih berusia kurang dari tiga tahun—menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana ia dapat mengetahui peristiwa tersebut.

 

 

 

 

 

Kronologi Penangkapan Hannibal Gadhafi

Libya secara resmi meminta pembebasan Hannibal Gadhafi pada tahun 2023 dengan alasan kondisi kesehatannya yang memburuk setelah ia melakukan mogok makan untuk memprotes penahanannya tanpa pengadilan.

Hannibal Gadhafi sebelumnya hidup dalam pengasingan di Suriah bersama istrinya yang berkebangsaan Lebanon, Aline Skaf, dan anak-anak mereka hingga ia diculik pada tahun 2015 dan dibawa ke Lebanon oleh militan Lebanon yang menuntut informasi tentang al-Sadr.

Polisi Lebanon kemudian mengumumkan bahwa mereka telah mengamankan Hannibal Gadhafi dari Kota Baalbek di timur laut Lebanon, tempat ia sempat ditahan oleh kelompok militan. Sejak saat itu, ia mendekam di penjara Beirut dan menjalani pemeriksaan terkait hilangnya al-Sadr.

Kasus ini telah menjadi persoalan yang lama menimbulkan ketegangan di Lebanon. Keluarga ulama tersebut percaya bahwa ia mungkin masih hidup di penjara Libya, meskipun sebagian besar warga Lebanon beranggapan bahwa ia telah meninggal dunia. Jika masih hidup, usianya kini mencapai 96 tahun.

Al-Sadr, yang menghilang bersama dua rekannya, Abbas Badreddine dan Mohammed Yacoub, dikenal sebagai pendiri kelompok politik dan militer Syiah yang aktif dalam perang saudara Lebanon. Konflik yang pecah pada tahun 1975 itu menjerumuskan negara ke dalam pertikaian panjang antara kelompok muslim dan Kristen.

Moammar Gadhafi sendiri tewas pada tahun 2011 oleh pasukan oposisi selama pemberontakan yang berubah menjadi perang saudara di Libya, mengakhiri empat dekade kekuasaannya atas negara Afrika Utara tersebut.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya