Penggerebekan Narkoba di Kampung Bahari: Petugas Dilawan Pakai Panah, Batu hingga Petasan

Pasukan gabungan langsung menyasar sebuah kos-kosan berwarna orange dan lapak di tepi rel. Keduanya disinyalir sebagai pusat transaksi sabu di kawasan padat itu.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 06 November 2025, 00:30 WIB
Pasukan gabungan menggelar operasi di kawasan dikenal sebagai salah satu kampung rawan narkoba. (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Busur panah, batu melayang-layang di bawah langit Kampung Bahari, Tanjung Priok, Rabu (5/11/2025). Suara petasan dan percikan kembang api mewarnai ketika 125 personel gabungan bersenjata lengkap berdiri siaga.

Momen itu tergambar saat Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Brimob Polda Metro Jaya menggelar operasi di kawasan dikenal sebagai salah satu kampung rawan narkoba.

Pasukan gabungan langsung menyasar sebuah kos-kosan berwarna orange dan lapak di tepi rel. Keduanya disinyalir sebagai pusat transaksi sabu di kawasan padat itu.

"Jadi ini perintah dari Pak Kepala BNN RI bersama-sama juga dengan Pak Kabareskrim menyampaikan satu kegiatan dimana kita akan melakukan penindakan terhadap beberapa titik yang disinyalir ada di daerah rawan narkoba," kata Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN RI, Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan kepada wartawan, Rabu (5/11/2025).

Begitu mendekat, sekelompok orang melakukan perlawanan dengan melemparkan batu, kembang api, bahkan menodongkan samurai ke arah petugas. Namun tak lama situasi berhasil dikendalikan tanpa adanya korban luka.

"Kita sudah mengantisipasi kalau ada perlawanan, ternyata benar," ucap dia.

Setelah situasi kondusif, petugas mulai mengepung dua titik yang disinyalir jadi markas pengedar. Hasilnya, 18 orang berhasil diamankan. Sejumlah barang bukti narkoba dan perlengkapan penggunaan turut disita.

Dari lapak pertama, petugas mengamankan sabu sekitar 100 gram lebih dan 50 butir ekstasi bergambar Transformer dan LV. Selain itu, ditemukan pula berbagai alat hisap, timbangan digital, serta perlengkapan pakai sabu.

Temukan Puluhan Alat Hisap

Pasukan gabungan menggelar operasi di kawasan dikenal sebagai salah satu kampung rawan narkoba. (Dok. Istimewa)

Di lapak-lapak lainnya, polisi menemukan puluhan alat hisap, timbangan digital, plastik klip kosong, serta uang tunai ratusan ribu rupiah yang diduga hasil penjualan barang haram tersebut.

Dari kamar kos berwarna oranye, petugas menyita 20,33 gram sabu, 38,84 gram ganja, dua butir ekstasi, uang tunai Rp7,2 juta, serta sembilan ponsel milik para pelaku.

"Ada jenis sabu dan ada ekstasi, Kemudian ada beberapa alat isap bong. Karena kita belum kelompokkan beberapa ini, termasuk ada uang. Kita sedang identifikasi dan klasifikasikan Barang bukti yang ada di TKP dan barang bukti yang ada pada bandar," ucap dia.

Menurut Brigjen Roy, pemeriksaan awal menunjukkan ada modus lama yang masih dipakai para pengedar. Setiap orang yang datang ke lokasi akan diajak masuk ke dalam lapak dan diminta mencoba atau membeli barang.

 

Kasus Dikembangkan

"Kalau kita lihat dari hasil interogasi beberapa tersangka dan saksi yang ada Jadi modusnya itu mereka, setiap orang yang hadir ke sana diajak untuk masuk ke dalam. Kemudian di dalam mereka minta untuk mencoba atau beli barang dari hasil yang sudah mereka siapkan terhadap buang-buang yang ada di lokasi," ucap dia.

Roy mengatakan pihaknya masih mengembangkan kasus ini untuk memburu bandar besar yang diyakini menjadi pengendali jaringan.

"Ada juga beberapa target yang kami kembangkan dari hasil analisis oleh intelijen untuk mendapatkan beberapa orang atau beberapa profil untuk kita kejar," ucap dia.

Infografis Laporan Khusus Narkoba (liputan6.com/desi)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya