Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada dua penerbitan emisi yakni obligasi dan sukuk baru selama sepekan tepatnya pada 27-31 Oktober 2025.
Pada Senin, 27 Oktober 2025, Obligasi Berkelanjutan VII Astra Sedaya Finance Tahap II Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Astra Sedaya Finance mulai dicatatkan di BEI dengan nominal Rp 2 triliun. Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi tersebut adalah idAAA (Triple A) dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat. Demikian mengutip dari keterangan resmi BEI, Sabtu (1/11/2025).
Advertisement
Kemudian pada Kamis, 30 Oktober 2025, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Armadian Tritunggal Tahap I Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Armadian Tritunggal mulai dicatatkan di BEI. Nominal pencatatan sukuk ini adalah Rp 2 triliun dan hasil pemeringkatan PT Kredit Rating Indonesia adalah irA-(sy) (Single A Minus Syariah). PT Bank KB Indonesia Tbk bertindak sebagai Wali Amanat.
Sepanjang 2025, total obligasi dan sukuk yang telah tercatat adalah 151 emisi dari 73 emiten senilai Rp 175,54 triliun. Total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 646 emisi dengan outstanding sebesar Rp 523,12 triliun dan USD 122,16 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 191 seri senilai Rp 6.423,84 triliun dan USD352,10 juta. Telah tercatat pula sebanyak 7 Efek Beragun Aset (EBA) di BEI dengan nilai Rp 2,13 triliun.
Pada Rabu, 29 Oktober 2025, Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) berkolaborasi dengan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) menyelenggarakan Go Public Seminar bertema “Empowering Private Hospitals: Go Public as a Catalyst for Growth” di BEI.
Diikuti oleh 47 peserta manajemen rumah sakit swasta, acara ini diharapakan dapat mendorong perusahaan, termasuk rumah sakit swasta, untuk memanfaatkan pasar modal sebagai katalis pertumbuhan dan peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
Kinerja IHSG Sepekan
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir pada 27-31 Oktober 2025. Koreksi IHSG terjadi di tengah sentimen musim laporan keuangan hingga kekuatiran terhadap rencana MSCI soal free float.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (1/11/2025), IHSG melemah 1,3% ke posisi 8.163,87. Pada pekan lalu, IHSG naik 4,5% ke posisi 8.271,72 pada 20-24 Oktober 2025. Kapitalisasi pasar merosot 2,48% menjadi Rp 14.857 triliun dari Rp 15.234 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 1,3% dipengaruhi sejumlah faktor baik sentimen positif dan negatif. Pertama, musim laporan keuangan emiten. Kedua, harga komoditas emas dunia yang melemah diperkirakan berpengaruh terhadap pergerakan emiten berbasis emas.
Ketiga, ada pertemuan Amerika Serikat (AS) dan China telah menjadi sentimen positif yang diperkirakan Amerika Serikat memangkas kenaikan tarif China. Keempat, pemangkasan suku bunga Amerika Serikat yang sejalan dengan harapan konsensus dan diperkirakan ada pemangkasan suku bunga kembali pada Desember 2025.
Investor Asing Beli Saham
"Kelima, kekhawatirna investor aka nada rencana MSCI yang akan memperketat kebijakan free float sehingga menimbulkan aksi jual di IHSG,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 1,79% menjadi 2,32 juta kali transaksi dari 2,37 juta kali transaksi pada pekan lalu. Kapitalisasi pasar BEI susut 2,48% menjadi Rp 14.857 triliun dari Rp 15.234 triliun.
Selama sepekan, investor asing juga masih melakukan aksi beli. Investor asing membeli saham senilai Rp 5,53 triliun dibandingkan pekan lalu Rp 4,23 triliun.
Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian bursa selama sepekan naik 3,72% menjadi 31,61 miliar saham dari pekan lalu 30,47 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian naik 1,55% menjadi Rp 22,63 triliun dari pekan lalu sebesar Rp 22,28 triliun.