Liputan6.com, Jakarta Aroma “lima” mengiringi laga Liverpool kontra Aston Villa di Anfield akhir pekan ini. Bagi Liverpool, angka itu bisa jadi simbol keterpurukan; bagi Aston Villa, justru pertanda kebangkitan. Dua tim dengan nasib berlawanan akan bertemu dalam duel yang berpotensi mengubah peta persaingan Premier League.
Liverpool kini berada di ambang rekor yang tidak diinginkan. Jika kalah dari Aston Villa, The Reds akan mencatat lima kekalahan beruntun di Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Sebaliknya, pasukan Unai Emery tengah menapaki jalur kemenangan dan berpeluang meraih lima kemenangan liga beruntun di markas sang juara bertahan.
Advertisement
Di tengah tekanan besar yang mengarah pada pelatih Arne Slot, Liverpool butuh kemenangan untuk menenangkan suasana. Namun, Aston Villa datang ke Merseyside dengan keyakinan tinggi setelah menumbangkan Manchester City pekan lalu.
Liverpool di Tepi Jurang Krisis
Kemenangan telak 5-0 atas Eintracht Frankfurt di Liga Champions sempat dianggap sebagai titik balik. Akan tetapi, hasil itu ternyata hanya fatamorgana. Liverpool kembali menunjukkan performa yang goyah di liga domestik setelah kalah dari Brentford dan tersingkir di EFL Cup oleh Crystal Palace—meski saat itu Arne Slot menurunkan banyak pemain muda dan pelapis.
Seorang jurnalis Liverpool bahkan menganggap pemilihan pemain Slot di laga Piala Liga itu sebagai tindakan “menyerah begitu saja”. Situasi kian pelik bagi pelatih asal Belanda tersebut karena tekanan untuk segera memperbaiki performa semakin besar, terutama jelang dua laga penting kontra Aston Villa dan Real Madrid.
Kini, Liverpool duduk di peringkat ketujuh klasemen Premier League, terpaut tujuh poin dari pemuncak Arsenal. Menariknya, angka tujuh itu juga mengingatkan pada catatan sejarah: sudah 72 tahun berlalu sejak Liverpool terakhir kali menelan lima kekalahan beruntun di kasta tertinggi Inggris—tepatnya pada 1953.
Meski enam dari tujuh kekalahan terakhir The Reds datang di laga tandang, performa mereka tetap mengkhawatirkan. Anfield mungkin masih menjadi benteng yang sulit ditembus, tetapi kebobolan demi kebobolan di liga musim ini menunjukkan ada masalah yang belum terselesaikan.