Tolak Wajib Militer, Unjuk Rasa Kaum Yahudi Ultra-Ortodoks Berakhir Ricuh

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 31 Oktober 2025, 13:45 WIB
Tolak Wajib Militer, Unjuk Rasa Kaum Yahudi Ultra-Ortodoks Berakhir Ricuh
Aksi unjuk rasa menolak kebijakan wajib militer di Israel pada Kamis 30 Oktober 2025 berakhir ricuh. Komunitas Yahudi Ortodoks menolak langkah pemerintah yang mewajibkan mereka untuk menjalani wajib militer. Pihak kepolisian Israel menggunakan meriam air untuk membubarkan para demonstran. Beberapa pengunjuk rasa terlihat ditangkap pihak keamanan Israel. Sebelumnya, puluhan ribu pria ultra-Ortodoks memenuhi pintu masuk ke Yerusalem dalam lautan hitam pada Kamis (30/10/2025) untuk memprotes rencana wajib militer bagi mereka. Para pria ultra-Ortodoks tersebut bernyanyi, bertepuk tangan, dan membawa spanduk bertuliskan bahwa mereka lebih memilih masuk penjara daripada harus masuk militer. Untuk menangani aksi unjuk rasa tersebut, pihak keamanan Israel menutup jalan raya utama di pintu masuk Yerusalem dan mengerahkan lebih dari 2.000 personel. Protes tersebut praktis melumpuhkan kota, dengan jalan-jalan ditutup dan transportasi umum terhenti akibat kerumunan besar itu. Untuk diketahui, pemicu utama protes pada Kamis (30/10/2025) adalah keputusan untuk membawa rancangan undang-undang wajib militer ke pembahasan di komite Knesset pada pekan depan, meskipun ada penolakan keras terhadap rancangan tersebut.
Seorang pria Yahudi ultra-Ortodoks berdiri di depan meriam air polisi saat protes menentang rencana wajib militer pria ultra-Ortodoks di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Aksi unjuk rasa menolak kebijakan wajib militer di Israel pada Kamis 30 Oktober 2025 berakhir ricuh. (AP Photo/Leo Correa)
Petugas polisi Israel membubarkan pria Yahudi ultra-Ortodoks yang menghalangi jalan dalam aksi protes menentang rencana wajib militer mereka di Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Komunitas Yahudi Ortodoks menolak langkah pemerintah yang mewajibkan mereka untuk menjalani wajib militer. (AP Photo/Leo Correa)
Petugas polisi Israel membubarkan pria Yahudi ultra-Ortodoks yang menghalangi jalan dalam aksi protes menentang rencana wajib militer mereka di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Pihak kepolisian Israel menggunakan meriam air untuk membubarkan para demonstran. Beberapa pengunjuk rasa terlihat ditangkap pihak keamanan Israel. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)
Petugas polisi Israel membubarkan pria Yahudi ultra-Ortodoks yang menghalangi jalan dalam aksi protes menentang rencana wajib militer mereka di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Sebelumnya, puluhan ribu pria ultra-Ortodoks memenuhi pintu masuk ke Yerusalem dalam lautan hitam pada Kamis (30/10/2025) untuk memprotes rencana wajib militer bagi mereka. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)
Pria Yahudi Ultra-Ortodoks memprotes rencana pemaksaan mereka untuk bertugas di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Para pria ultra-Ortodoks tersebut bernyanyi, bertepuk tangan, dan membawa spanduk bertuliskan bahwa mereka lebih memilih masuk penjara daripada harus masuk militer. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)
Pria Yahudi Ultra-Ortodoks menghadiri unjuk rasa menentang rencana pemaksaan mereka untuk bertugas di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Untuk menangani aksi unjuk rasa tersebut, pihak keamanan Israel menutup jalan raya utama di pintu masuk Yerusalem dan mengerahkan lebih dari 2.000 personel. (AP Photo/Mahmoud Illean)
Pria Yahudi Ultra-Ortodoks menghadiri unjuk rasa menentang rencana pemaksaan mereka untuk bertugas di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Protes tersebut praktis melumpuhkan kota, dengan jalan-jalan ditutup dan transportasi umum terhenti akibat kerumunan besar itu. (AP Photo/Leo Correa)
Pria-pria Yahudi Ultra-Ortodoks berdiri di atap gedung selama unjuk rasa menentang rencana pemaksaan mereka untuk bertugas di militer Israel, di Yerusalem, Kamis 30 Oktober 2025. Untuk diketahui, pemicu utama protes pada Kamis (30/10/2025) adalah keputusan untuk membawa rancangan undang-undang wajib militer ke pembahasan di komite Knesset pada pekan depan, meskipun ada penolakan keras terhadap rancangan tersebut. (AP Photo/Leo Correa)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya