Liputan6.com, Kota Vatikan - Raja Charles III (76) mencatat sejarah setelah menjadi raja Inggris yang berkuasa pertama yang berdoa secara terbuka bersama paus — sebuah peristiwa yang dipandang sebagai langkah simbolis menuju rekonsiliasi antara Gereja Katolik dan Gereja Anglikan. Momen ini merupakan yang pertama sejak masa Henry VIII, ketika sang raja memutus hubungan dengan Roma pada Abad ke-16 dan melahirkan Gereja Inggris dengan monarki sebagai pemimpinnya.
Sang raja dan istrinya, Ratu Camilla, bergabung dengan Paus Leo XIV dalam sebuah kebaktian di bawah langit-langit Kapel Sistina yang dihiasi fresco karya Michelangelo — tempat di mana pada bulan Mei lalu Paus Leo XIV terpilih sebagai paus pertama asal Amerika Serikat yang memimpin 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Advertisement
Kunjungan kenegaraan ke Vatikan ini berlangsung pada masa yang sensitif bagi Raja Charles III setelah saudaranya, Pangeran Andrew, sepakat untuk melepaskan gelar "Duke of York" di tengah kekhawatiran terkait hubungannya dengan mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang telah divonis bersalah.
Meski demikian, sang penguasa Kerajaan Inggris dilaporkan tampak bersemangat. Sebelum kebaktian dimulai, ketika ia disambut oleh Paus Leo XIV di dalam Istana Apostolik, Raja Charles III menunjuk ke arah kamera yang merekam acara tersebut dan berseloroh bahwa kamera-kamera itu merupakan "bahaya yang konstan."
Kebaktian di Kapel Sistina yang memadukan unsur Katolik dan Anglikan diawali dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris. Lagu-lagu rohani dinyanyikan oleh paduan suara Kapel Sistina bersama dua paduan suara kerajaan Inggris yang diundang sebagai tamu: paduan suara Kapel St George dari Kastil Windsor dan paduan suara anak-anak dari Chapel Royal di Istana St James.
Namun, kebaktian pada hari Kamis (23/10/2025), juga menimbulkan kritik.
Seorang pendeta Protestan terkemuka asal Irlandia Utara mengatakan bahwa Raja Charles III seharusnya turun takhta jika berdoa bersama paus. Kyle Paisley, pendeta dari Gereja Presbiterian Merdeka sekaligus putra dari mendiang politikus unionis Ian Paisley senior, menyampaikan kepada BBC bahwa tindakan tersebut berpotensi melanggar sumpah raja untuk menegakkan iman Protestan.
"Iman Protestan, secara historis dan teologis, benar-benar berbeda dari Katolik. Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana dia bisa terlibat dalam bentuk ibadah bersama seperti itu," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.
Lembaga Independent Loyal Orange Institution, organisasi Protestan konservatif yang menegaskan dukungannya agar Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Kerajaan Inggris, turut menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kebaktian tersebut.
Bagian dari Rekonsiliasi?
Raja Charles III dan Ratu Camilla juga mengunjungi Basilica of Saint Paul Outside the Walls, tempat yang memiliki hubungan historis dengan Kerajaan Inggris sejak berabad-abad lalu. Dalam kunjungan tersebut, sang raja menerima gelar kehormatan royal confrater — sebuah simbol pengakuan atas ikatan rohani dan persaudaraan spiritual antara kedua tradisi gereja.
Hendro Munsterman, koresponden Vatikan untuk surat kabar Belanda Nederlands Dagblad, mengatakan bahwa langkah ini merupakan simbol penting dalam proses rekonsiliasi antara dua gereja yang mulai berkembang pada tahun 1960-an.
"Bulan lalu saja diadakan pertemuan penting di mana banyak isu dibahas. Sejak tahun 1960-an, kedua gereja semakin menyadari bahwa perbedaan antara Katolik dan Anglikan sebenarnya tidaklah besar," kata dia. "Kunjungan raja benar-benar melambangkan adanya persekutuan dan saling menghormati antara keduanya."
Raja Charles III dan Ratu Camilla terakhir kali berada di Vatikan pada bulan April, ketika mereka menyempatkan diri mengunjungi mendiang Paus Fransiskus yang saat itu sedang menjalani masa pemulihan. Kunjungan tersebut dilakukan di sela-sela lawatan kenegaraan mereka ke Italia. Tidak lama setelah pertemuan itu, Paus Fransiskus meninggal dunia pada akhir bulan yang sama.