Matheus Cunha Ubah Wajah Manchester United: Dari Gaya Lembut ke Mental Petarung

Matheus Cunha membawa karakter, teknik, dan sikap tak kenal takut ke Manchester United. Di tangan Ruben Amorim, penyerang Brasil ini jadi simbol kebangkitan mental Setan Merah.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 24 Oktober 2025, 12:04 WIB
Aksi Matheus Cunha di laga Manchester United vs Everton di Premier League Summer Series 2025 di Mercedes-Benz Stadium, Senin (04/08/2025). (AP Photo/Colin Hubbard)

Liputan6.com, Jakarta Ketika Matheus Cunha resmi bergabung dengan Manchester United pada Agustus lalu, suasana di Old Trafford suram. Kekalahan di final Liga Europa menutup pintu ke kompetisi Eropa musim ini, dan arah klub di bawah Ruben Amorim dipertanyakan. Suporter kehilangan keyakinan, pengamat skeptis, dan tim tampak kehilangan jiwa.

Meski begitu, Cunha datang dengan cara berbeda. Ia melihat kekacauan itu, mengangkat bahu, dan berkata siap menghadapi tantangan. Beberapa pekan kemudian, di laga terbesar melawan Liverpool, ia menunjukkan kenapa dirinya dibutuhkan, menguasai bola di ruang sempit, menahan tekanan, dan memprovokasi lawan di saat yang tepat.

Gaya bermainnya membuat lawan frustrasi, tapi bagi timnya, Cunha adalah penyalur energi dan pelaksana instruksi taktis Amorim yang sempurna.

CEO Omar Berrada bahkan menjulukinya mirip Eric Cantona. Sebuah perbandingan besar, tetapi tak sepenuhnya salah: Cunha memiliki porsi teknik, karakter, dan keberanian yang serupa.


Taktik Fleksibel Amorim: Mengandalkan Trio Rotasi

Duel Fulham vs Manchester United di Liga Inggris 2025/2026. (AFP/Justin Tallis)

Melawan Liverpool, Amorim mengambil risiko besar, yaitu bermain tanpa penyerang murni. Benjamin Sesko duduk di bangku cadangan, sementara Cunha berperan sebagai pusat dalam trio dinamis bersama Mason Mount dan Bryan Mbeumo.

Keputusan itu terbukti jitu. Cunha sering turun ke lini tengah, menarik bek lawan keluar dari posisinya dan membuka ruang bagi Mbeumo di sisi lebar. Liverpool, yang mengira United akan bermain langsung ke target man, justru dipaksa menghadapi pemain-pemain dengan pergerakan lincah dan kemampuan menguasai bola tinggi.

“Kadang karakter permainan menentukan pendekatan kami,” kata Amorim setelah kemenangan 2-1 itu. “Kalau kami mainkan Sesko, para bek tengah mereka bisa mengontrol dengan mudah. Tapi dengan Cunha di tengah, mereka tak tahu harus menjaga siapa.”

Cunha memang belum mencetak gol atau assist dari delapan laga, tetapi kontribusinya jauh melampaui angka. Ia menghubungkan serangan, menjaga tempo, dan menjadi pengganggu di lini depan. Cunha adalah tipe pemain yang dibutuhkan Amorim untuk membuat timnya berani bereksperimen.


Grit dan Teknik: Dua Wajah Cunha yang Lengkap

Matheus Cunha dari Manchester United dalam pertandingan Premier League antara Manchester United dan Arsenal di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu, 17 Agustus 2025. (AP Photo/Dave Thompson)   

Permainan Cunha melawan Liverpool memperlihatkan dua sisi yang jarang bersatu dalam satu pemain, yaitu ketenangan teknis dan keberanian fisik. Ia mampu menahan bola di bawah tekanan, memenangkan duel, atau memancing pelanggaran demi mengulur waktu.

Lanjut Baca:

Amorim kini menata ulang gaya Man United dengan pendekatan berbasis bola panjang dan perebutan bola kedua atau ketiga. Dalam sistem seperti ini, peran pemain yang bisa menjinakkan kekacauan jadi krusial, dan Cunha memenuhi itu. Ia tahu kapan harus menggiring, kapan harus menahan, dan kapan harus mengalirkan bola ke rekan yang lebih bebas. Ia bukan pelari cepat yang hanya mengandalkan ruang terbuka, melainkan pengontrol tempo yang tahu cara mengatur napas permainan. Bahkan dalam situasi lambat, ia bisa menghasilkan keuntungan kecil. Kedua kakinya sama kuat, tekniknya rapi, dan pergerakannya cair. Dalam setengah jam terakhir di Anfield, Cunha terus memegang bola di area padat untuk mengurangi tekanan. Ia tak mencetak gol, tapi kerap menjadi pengalir serangan pertama yang membuat United bertahan hidup.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya