Liputan6.com, Jakarta Krisis Juventus semakin dalam setelah tumbang 0-1 dari Real Madrid di matchday 3 League Phase Liga Champions 2025/2026. Bermain di Santiago Bernabeu, Bianconeri gagal mencuri poin setelah gol tunggal Jude Bellingham memastikan kemenangan tuan rumah. Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk Juventus yang belum pernah menang dalam tujuh laga terakhir di semua kompetisi.
Hasil itu juga memperburuk posisi Si Nyonya Tua di klasemen Liga Champions. Tim asuhan Igor Tudor kini terpuruk di urutan ke-25, posisi yang sangat jauh dari zona aman untuk lolos ke babak sistem gugur. Para pendukung Juventus pun mulai kehilangan kesabaran melihat performa tim yang terus menurun sejak awal musim.
Advertisement
Kekalahan di Bernabeu seolah menjadi simbol betapa rapuhnya Juventus di bawah tekanan lawan-lawan besar. Meski pertahanan sempat tampil disiplin, serangan mereka tumpul dan jarang menciptakan peluang bersih. Dalam 16 tahun terakhir, belum pernah Juventus mengalami rentetan hasil tanpa kemenangan sepanjang ini.
Namun di tengah situasi yang suram, muncul suara menenangkan dari sosok legendaris Italia, Arrigo Sacchi. Mantan pelatih AC Milan itu menilai kekalahan dari Real Madrid bukan bencana besar, asalkan Juventus tahu cara memperbaikinya. Sacchi bahkan menyebut ada satu ‘obat’ yang bisa mengembalikan Bianconeri ke jalur kemenangan.
Sacchi: Kekalahan dari Madrid Bukan Akhir Dunia
Arrigo Sacchi mencoba melihat sisi positif dari kekalahan Juventus di Bernabeu. Ia menilai, kalah dari Real Madrid adalah hal yang wajar mengingat perbedaan kualitas dan mental antara kedua tim saat ini. Namun Sacchi menyoroti bahwa masalah Juventus bukan hanya soal hasil, melainkan soal kepercayaan diri dan arah permainan.
“Setelah mempertimbangkan semuanya, kalah di Real Madrid tidak masalah,” tulis Sacchi dalam kolomnya di La Gazzetta dello Sport. “Tetapi kenyataannya, Bianconeri belum pernah menang di Eropa dan sudah lebih dari sebulan sejak terakhir kali mereka menang di liga dan piala domestik.”
Menurutnya, situasi ini menjadi ujian nyata bagi pelatih Igor Tudor. Juventus terlihat kehilangan identitas dan arah permainan yang jelas. Mereka sering tampil tanpa ide, bahkan ketika menghadapi lawan yang secara kualitas di bawah mereka.