Tantangan Bek Modern di Liga Champions: Antara Menekan dan Menjaga Ruang

Frank de Boer dan Michael Carrick membedah tuntutan berat bagi bek modern di Liga Champions: menjaga ruang, mengantisipasi bola belakang, dan bertahan dengan garis tinggi.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 21 Oktober 2025, 10:25 WIB
Eric Garcia berduel memperebutkan bola dengan Senny Mayulu dalam laga pembuka Liga Champions antara Barcelona dan PSG di Lluis Companys Olympic Stadium, 1 Oktober 2025. (AP Photo/Joan Monfort)

Liputan6.com, Jakarta Menjadi bek di sepak bola modern bukan lagi sekadar soal tekel atau duel udara. Kini, bek dituntut menguasai ruang, baik di depan maupun di belakang, dalam sistem yang menekankan pressing tinggi. Di era ini, satu kesalahan posisi bisa berarti satu peluang emas bagi lawan.

Menjelang Matchday 3 Liga Champions, UEFA menghadirkan dua pengamat teknis, Frank de Boer dan Michael Carrick, untuk meninjau laga Barcelona melawan PSG pada pertandingan sebelumnya. Dari analisis itu, keduanya membahas tuntutan ruang dan pemahaman taktik yang harus dikuasai para bek modern.

Pertahanan bukan lagi sekadar blok rapat di depan gawang. Kini, pemain belakang dituntut aktif, agresif, dan cerdas membaca situasi dalam hitungan detik. Mereka harus tahu kapan menekan, kapan bertahan, dan bagaimana menjaga jarak dengan rekan satu lini.

Melalui analisis tersebut, terlihat jelas bahwa bermain di lini pertahanan saat ini membutuhkan lebih dari sekadar fisik kuat, tapi juga insting, komunikasi, dan kecerdasan posisi tingkat tinggi.


Mengelola Ruang: Antara Menekan dan Menutup Celah

Gelandang Girona asal Spanyol, Joel Roca, berebut bola dengan bek Barcelona asal Prancis, Jules Kounde, dalam pertandingan La Liga antara FC Barcelona melawan Girona FC di Estadi Olimpic Lluis Companys dpada 18 Oktober 2025. (Josep LAGO / AFP)

Dalam momen pertama dianalisis, Jules Kounde tampil menonjol dengan total jarak 868 meter dalam sprint dan lari intensitas tinggi saat bertahan, tertinggi di antara semua bek pada Matchday 2. De Boer menyoroti bagaimana Kounde berani meninggalkan posisi dalam formasi empat bek kompak untuk menekan Nuno Mendes di sisi kiri Paris.

Langkah agresif seperti itu memang berisiko, namun menjadi bagian penting dari filosofi bertahan modern. Bek kini harus berani naik untuk memotong aliran bola sebelum lawan bisa membangun serangan. Contoh serupa juga tampak dari Willian Pacho di kubu PSG dan Gerard Martin di Barcelona, dua pemain yang tak segan maju menekan jauh ke depan.

Namun, di balik langkah ke depan, ada konsekuensi besar, ruang di belakang yang terbuka lebar. Karena itu, antisipasi menjadi hal krusial. Eric Garcia, misalnya, memperlihatkan dua momen penting saat ia menjaga ruang di belakang rekan setimnya yang sudah naik menekan, memastikan celah tak menjadi peluang emas bagi lawan.

Lanjut Baca:

Carrick menegaskan bahwa keputusan seperti ini sangat bergantung pada intuisi. “Ini soal merasakan di mana bahaya berada dan membuat pilihan yang tepat,” ujarnya. “Kadang Anda harus membiarkan satu pemain lawan memiliki bola karena itu pilihan yang paling aman.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya