Liputan6.com, Jakarta Keterbatasan penglihatan bukan penghalang bagi Supron Ridisno untuk lulus S3 dengan disertasi terbaik.
Supron adalah penyandang disabilitas yang lulus S3 di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Dalam Sidang Senat Terbuka yang digelar di GSG KH Ahmad Hanafiah, Kamis (16/10/2025), Rektor Wan Jamaluddin Z secara resmi menobatkan Supron sebagai penerima penghargaan disertasi terbaik.
Advertisement
Supron merupakan lulusan Program Doktor Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung dengan disertasi berjudul “Kebijakan Pemerintah Daerah Guna Pemberdayaan Penyandang Disabilitas di Provinsi Lampung”.
Melalui riset kualitatif deskriptif, ia menyoroti implementasi kebijakan pemerintah daerah dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya dalam bidang pendidikan inklusif dan ketenagakerjaan. Ia menemukan bahwa meskipun kebijakan sudah tersedia, masih banyak tantangan yang dihadapi di lapangan, seperti keterbatasan tenaga pendidik profesional, akses terhadap media pembelajaran, serta minimnya pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas.
“Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya. Saya ingin mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, salah satunya melalui pendidikan S3,” ujar Supron saat diwawancarai Tim Humas UIN RIL seperti mengutip kemenag.go.id, Minggu (19/10/2025).
Ia berkisah, awalnya tidak berencana menempuh program doktor, namun takdir membawanya untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Dari proses tersebut, ia merasa mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam mendorong kebijakan pemerintah daerah terkait pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.
Pentingnya Regulasi Disabilitas dan Pelaksanaannya di Lapangan
Melalui disertasinya, Supron ingin menyampaikan bahwa regulasi tentang disabilitas memang penting, tapi pelaksanaannya di lapangan juga tak kalah penting.
“Kita punya Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Tapi yang penting bukan hanya regulasinya, melainkan bagaimana pelaksanaannya di lapangan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Supron yang sehari-hari berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SLB Fitrah Insani Bandar Lampung bersyukur karena selama studi mendapatkan dukungan penuh dari dosen, rekan mahasiswa, dan staf kampus.
“Saya berterima kasih karena mereka sangat terbuka dan mendukung, meskipun saya memiliki keterbatasan penglihatan,” tuturnya.
Selesaikan Studi dengan Bantuan Teknologi
Dalam menyelesaikan studinya, Supron memanfaatkan teknologi seperti program pembaca layar dan buku digital yang membantunya mengakses jurnal-jurnal ilmiah nasional maupun internasional.
“Alhamdulillah, dengan dukungan teknologi itu saya bisa menyelesaikan semua tugas dan akhirnya disertasi ini,” ujarnya.
Supron juga berpesan kepada sesama penyandang disabilitas agar tidak ragu melanjutkan pendidikan.
“Tidak ada batasan untuk menuntut ilmu. Dunia pendidikan sekarang sudah sangat terbuka. Yang penting kita punya semangat dan kemauan. Keluarga juga harus memberi kesempatan, karena tantangan terbesar sering datang dari lingkungan sekitar,” katanya.
Didampingi istri tercinta, Lia Rozana, Supron menegaskan pentingnya dukungan keluarga dan aksesibilitas yang layak bagi mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi. Ia berharap ke depan UIN RIL semakin memperkuat layanan bagi penyandang disabilitas melalui unit layanan khusus.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UIN RIL mengukuhkan sebanyak 1.587 wisudawan yang terdiri dari program sarjana, magister, dan doktor.
Kisah Supron Ridisno menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan semangat dan ketekunan, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi dapat diakses oleh siapa pun yang mau berjuang dan berkomitmen.