Peneliti Optimalkan Peran AI untuk Bantu Aktivitas Penyandang Disabilitas

AI bisa dimanfaatkan untuk membantu memperluas akses bagi penyandang disabilitas.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 17 Oktober 2025, 09:33 WIB
Peneliti Optimalkan Peran AI untuk Bantu Aktivitas Penyandang Disabilitas. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta Artificial Intelligence (AI) atau teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk membantu penyandang disabilitas.

Seperti terlihat dalam riset berbasis AI yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupa speech recognition dan facial expression recognition.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) BRIN, Hilman Ferdinandus Pardede, menjelaskan bagaimana AI membantu pengguna disabilitas melalui pengenalan ucapan yang lebih alami dan efisien. Speech recognition membantu penyandang disabilitas yang kesulitan mendengar.

“Speech recognition membuat komunikasi menjadi lebih alami dan manusiawi. Tidak perlu menyentuh atau melihat, cukup dengan suara,” jelas Hilman, dalam webinar PRKAKS #03, bertajuk Peran Serta Riset Berbasis AI untuk Mendukung Aktivitas Kawan Disabilitas, Jumat (17/10/2025).

Hilman menambahkan, riset di bidang pengenalan suara masih menghadapi tantangan besar, seperti adaptasi terhadap berbagai aksen, kebisingan lingkungan, dan kondisi pengguna yang beragam.

“Inovasi yang efisien dan hemat sumber daya sangat penting agar teknologi ini dapat diakses lebih luas, termasuk oleh pengguna dengan perangkat sederhana. Dengan begitu, AI benar-benar menjadi sarana pemerataan akses teknologi,” kata Hilman.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Madya PRKAKS BRIN, Gembong Satrio Wibowanto, menjelaskan facial expression recognition. Dia menyoroti bagaimana teknologi pengenalan ekspresi wajah dapat menjadi sarana komunikasi alternatif bagi individu dengan keterbatasan verbal.

“FER (facial expression recognition) menjadi salah satu bidang yang menarik karena bisa membantu mereka yang mengalami kesulitan berkomunikasi secara verbal,” ujar Gembong.

 

Pengembangan Sistem Adaptif

Gembong menerangkan, penelitian BRIN difokuskan pada pengembangan sistem yang adaptif terhadap ekspresi wajah pengguna dan dapat bekerja secara real-time.

“Teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi emosi pengguna secara akurat sehingga interaksi antara manusia dan mesin dapat berlangsung lebih empatik dan intuitif,” harap Gembong.

Sementara, Kepala PRKAKS BRIN, Anto Satriyo Nugroho, menegaskan teknologi harus dapat diakses semua pihak tanpa terkecuali. Dia mencontohkan berbagai inovasi yang telah membantu rekan disabilitas dalam aktivitas sehari-hari.

“Beberapa contoh seperti screen reader bagi yang memiliki keterbatasan penglihatan atau speech recognition bagi mereka yang kesulitan mendengar, menunjukkan bagaimana AI dapat membantu aktivitas dan komunikasi,” ujar Anto.

 

Pentingnya Perspektif Hak dalam Pengembangan Teknologi

Dalam keterangan yang sama, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Rachmita Maun Harahap, menyoroti pentingnya perspektif hak dalam pengembangan teknologi.

Dia menekankan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kesetaraan, bukan sekadar bentuk belas kasihan.

“Teknologi itu bukan belas kasihan, tapi alat untuk memperjuangkan kesetaraan,” ungkap Rachmita.

Berbagai inovasi berbasis AI seperti speech-to-text dan text-to-speech, ujar Rachmita, telah membawa dampak besar bagi penyandang disabilitas netra maupun rungu.

“Teknologi tersebut tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi membuka peluang baru dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Kebijakan publik yang berpihak serta keterlibatan komunitas disabilitas dalam proses riset menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan ekosistem teknologi yang benar-benar inklusif,” tutup Rachmita.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya