Liputan6.com, Washington D.C - Fenomena alam ini tengah jadi sorotan ilmuwan dunia. Sebuah sabuk rumput laut cokelat raksasa bernama Great Atlantic Sargassum Belt kini membentang di Samudra Atlantik dan bahkan bisa terlihat dari ruang angkasa.
Pertama kali diamati pada tahun 2011, rumput laut sargassum ini kini tumbuh luar biasa besar. Panjangnya mencapai 8.850 kilometer dengan berat sekitar 37,5 juta ton, hampir dua kali lebar benua Amerika, diansir dari Oddity Central, Rabu (15/10/2025).
Advertisement
Rumput laut ini terbentang dari pantai barat Afrika hingga Teluk Meksiko, membentuk pita cokelat raksasa di permukaan laut.
Awalnya, sargassum hanya tumbuh di Laut Sargasso, namun kini menyebar luas ke lautan terbuka. Para ilmuwan menyebut pertumbuhan masif ini disebabkan oleh meningkatnya kadar nitrogen dan fosfor di laut akibat pencemaran dari pertanian, limbah, dan pembuangan sampah.
Dampak Positif dan Negatif
Meski begitu, sabuk raksasa ini juga punya sisi positif. Sargassum menyediakan ekosistem kompleks bagi berbagai hewan laut seperti ikan, kepiting, udang, belut, hingga penyu. Namun, dampak buruknya tak bisa diabaikan.
Sabuk sepanjang ribuan kilometer ini dapat menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan terumbu karang untuk fotosintesis, merusak area penyerapan karbon alami, dan saat membusuk, melepaskan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.
Ketika mencapai garis pantai, dampaknya bisa mengganggu sektor pariwisata, perikanan, bahkan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa dengan suhu laut yang terus meningkat setiap tahun, sabuk sargassum raksasa ini kemungkinan akan terus tumbuh pesat dan bisa menimbulkan dampak lingkungan yang sulit diprediksi di masa depan.