JSI Sinergi Mas Lanjutkan Proses Akuisisi Leyand Internasional (LAPD)

Proses akuisisi PT Leyand Internasional Tbk (LAPD) oleh PT JSI Sinergi Mas (JSI) terus berlanjut.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 10 Oktober 2025, 06:00 WIB
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Proses akuisisi PT Leyand Internasional Tbk (LAPD) oleh PT JSI Sinergi Mas (JSI) terus berlanjut. Perusahaan tersebut secara konsisten melaksanakan pembelian saham LAPD secara bertahap sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Aksi korporasi ini mencakup pengambilalihan 51 persen saham dari total modal ditempatkan dan disetor di Leyand Internasional (LAPD), yang sebelumnya dimiliki oleh Laymand Holdings Pte Ltd, PT Intiputera Bumitirta, Keraton Investment Ltd, Evi Felicia, dan Leo Andyanto.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB), pada 18 September 2025 JSI telah meningkatkan kepemilikannya di Leyand Internasional menjadi 513.750.900 saham atau setara dengan 12,95 persen hak suara.

Founder sekaligus Direktur Utama JSI, Jamal Abdul Nasir, menyebut langkah ini sebagai bagian penting dari evolusi perusahaan sejak berdiri. 

"Akuisisi LAPD menjadi langkah strategis dan transformatif JSI dan merupakan bentuk penguatan fundamental bisnis berbasis keberlanjutan," kata Jamal dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/10/2025).

Ia menjelaskan JSI, yang merupakan perusahaan terintegrasi di bidang pertambangan dan energi, akan membangun sinergi bisnis dengan Leyand Internasional sebagai bagian dari strategi ekspansi jangka panjang.

Menurutnya, kehadiran perusahaan publik seperti Leyand Internasional merupakan momentum penting dan menandai langkah JSI menuju level ‘Premier League’ dunia bisnis.

 

Pengembangan Bisnis

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jamal menuturkan, sejak berdiri pada 2013 sebagai operator logistik pelabuhan di Kalimantan Timur, JSI telah berkembang menjadi grup usaha dengan berbagai lini bisnis, meliputi pertambangan batu bara, logistik, konstruksi pelabuhan, audit emisi, serta eksplorasi dan pengolahan pasir silika. Kolaborasi dengan Leyand Internasional, kata dia, diharapkan memperkuat sinergi di seluruh sektor tersebut.

"Kami bersyukur prosesnya berjalan baik, tim kami sudah siap, dan kami optimis bisa segera menyelesaikan akuisisi penuh," tambah Jamal.

Selain itu, JSI yang kini juga mulai mengembangkan bisnis energi terbarukan melihat peluang sinergi yang lebih luas dengan Leyand Internasional, terutama di sektor pembangkit listrik dan pengelolaan emisi. 

"Target kami jelas: ekspansi ke sektor yang mendukung green environment dan prinsip ESG. Kami sudah memiliki bisnis audit emisi melalui Nusa Energi Langgeng Persada (NELP) yang berjalan selama dua tahun. Kolaborasi dengan LAPD akan membuka akses kami ke proyek-proyek pembangkit yang potensinya luar biasa besar," jelasnya.

  

Penerbitan Izin Usaha Produksi

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam waktu bersamaan, JSI sedang menunggu tahap akhir penerbitan Izin Usaha Produksi (IUP) untuk pasir silika di Lingga, Kepulauan Riau. Hasil produksinya ditujukan tidak hanya untuk pasar ekspor seperti China, India, dan Korea, tetapi juga untuk pembangunan pabrik kaca dan panel surya sebagai bagian dari strategi hilirisasi.

“Produksi pasir silika kami siapkan untuk pasar ekspor dan hilirisasi dalam negeri. Kami tidak hanya ingin menjual bahan mentah, tapi menciptakan produk bernilai tambah. Mesin sudah kami pesan dari China, commissioning dimulai setelah IUP keluar, dan target operasional pabrik di awal 2027,” ujar Jamal.

Jamal menambahkan bahwa akuisisi Leyand Internasional akan membuka sinergi bisnis yang lebih luas dan memperkuat posisi JSI sebagai perusahaan yang solid. Saat ini, JSI mencatat pertumbuhan aset signifikan sejak 2022, dari di bawah Rp 100 miliar menjadi lebih dari Rp 500 miliar, belum termasuk ekspansi di bisnis silika dan entitas lainnya.

  

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya