Liputan6.com, Sidoarjo - Proses pembongkaran material untuk evakuasi korban bangunan ambruk di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo sudah mendekati lantai dasar. Sinar matahari mulai menembus dasar reruntuhan, pertanda kemajuan proses evakuasi.
Kepala Basarnas Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan proses evakuasi korban di Ponpes Al Khoziny sudah sepenuhnya menggunakan alat berat. Namun ada sebagian sisi-sisi lain area yang tetap memakai metode konvensional.
Advertisement
"Ada sisi-sisi lain tetap menggunakan cara konvensional untuk mempercepat proses saja," kata Nanang, Jumat (3/10/2025).
Tim SAR mulai membersihkan bongkahan material di sisi luar atau samping menggunakan alat berat. Sedangkan pembersihan dari dalam sudah dilakukan kemarin seperti dengan cara merayap lorong-lorong puing.
"Sekarang sudah mulai terang, sudah mulai ada pencahayaan, membantu mempercepat menjangkau area," katanya.
Dia menyebut proses evakuasi sudah mencapai 50 persen terutama untuk zona A2 dan A4. Lapis demi lapis puing bekas bangunan 4 lantai itu mulai tersingkap. Material bangunan gedung paling atas sudah terangkat.
Inilah yang membuat pencahayaan dari matahari bisa menembus lantai bawah. Situasi itu bisa membantu memudahkan pencarian korban. Proses pembongkaran material akan dihentikan sementara bila terlihat korban, lalu dilanjut usai evakuasi.
"Ini sudah mendekati titik lokasi paling bawah," kata Nanang.
Tim SAR terus bekerja membersihkan material reruntuhan dan pencarian korban selama 24 jam ke depan. Menurut Nanang, secara matematis seluruh proses evakuasi diperkirakan selesai pada Sabtu, 4 Oktober 2025 besok.
Peralatan Khusus Percepat Evakuasi
Tim SAR Gabungan menggunakan berbagai peralatan khusus untuk mempercepat evakuasi. Salah satunya menggunakan Drone Thermal untuk mendeteksi detak jantung, gerak tubuh dan suhu panas.
"Sejauh ini alat tak mendeteksi ada tanda - tanda kehidupan," kata Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Basarnas, Emi Freezer.
Karena menggunakan alat itu, lanjut dia, dihindarkan ada banyak orang di atas areal utama selama proses evakuasi. Tujuannya agar tak ada orang lain yang turut terdeteksi alat dan bisa mempersulit pencarian.
"Itulah mengapa hanya sedikit yang ada di area," ujarnya.
Bongkahan reruntuhan bangunan juga saling terhubung antar satu dengan lain. Ini yang membuat proses evakuasi harus berhati-hati sebab upaya pemindahan dapat memberikan dampak pergeseran dari pola runtuhan.
Areal itu juga rawan runtuh bila beban di atasnya terlamlau berlebihan. Karena itu selama proses evakuasi tidak melibatkan banyak orang di area utama.
Jumlah Korban
Pos Mortem Polda Jawa Timur kembali menerima tiga jenazah korban tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Jumat malam, 3 Oktober 2025.
Dengan tambahan ini, total sementara sebanyak 13 jenazah santri telah berhasil ditemukan, dan dievakuasi hingga hari kelima operasi pencarian.
Peristiwa ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo menyebabkan banyak korban. Basarnas mencatat peristiwa ini menimbulkan 113 korban. Meliputi sebanyak 10 korban meningal dunia, 90 orang evakuasi mandiri atau menyelamatkan diri dalam keadaan terluka dan 13 orang dievakuasi dari reruntuhan dalam kondisi luka berat dan ringan.
Korban terluka dirawat di 7 rumah sakit berbeda. Yakni RSI Siti Hajar, RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, Klinik BDS Tebel, RSI Sakinah Mojokerto, RS Sheila Medika, RSUD dr M Soewandhie Surabaya. Untuk korban jiwa dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk indentifikasi.