Komisi X Rapat Bareng Menpora, Soroti Gaji Atlet Difabel di Bekasi Masih Tertunggak

Selain menyinggung soal nasib atlet, ggota DPR RI dari Fraksi PAN, Verrell Bramasta mencatat jumlah pemuda-pemudi Indonesia saat ini berjumlah 64,22 juta jiwa.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 29 September 2025, 17:13 WIB
Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Verrell Bramasta (kedua dari kiri) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Verrell Bramasta, menyampaikan aduan dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bekasi, terkait dugaan penindasan 22 atlet disabilitas. Menurut dia, para atlet difabel tersebut belum menerima haknya.

"Mereka meminta hak mereka karena gajinya belum dibayarkan, tetapi ada tendensi abuse of power, mereka dibungkam, mereka tidak dapat kejelasan sampai saat ini," kata Verell saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir beserta jajarannya di DPR RI, Senin (29/9/2025).

Selain menyinggung soal nasib atlet, Varrel mencatat jumlah pemuda-pemudi Indonesia saat ini berjumlah 64,22 juta jiwa. Artinya, Indonesia memiliki kekuatan besar melalui youth mainstreaming dan collective power of the youth untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Namun demikian, Varrel mewanti kewaspadaan akan. gagalnya tujuan tersebut karena kemunculan budaya destruktif, inferior complex dan crab mentality.

Verrell menjelaskan, budaya inferior complex membuat banyak anak muda selalu memandang rendah kemampuan bangsanya sendiri. Baik di dunia hiburan maupun olahraga, banyak talenta lokal muda yang hebat, tapi terbiasa rendah diri selalu membandingkan dengan negara lain dan lupa menghargai potensi diri sendiri.

"Kemudian fenomena crab mentality yang masih kuat di kalangan pemuda. Faktanya, ketika masyarakat mengetahui bahwa salah satu yang mendalangi hadiah adalah sesama WNI yang terjadi bukannya didukung oleh sesama pemuda-pemudi Indonesia, tetapi malah di-report akunnya sampai akun itu hilang," catat Verrell.

Bagi dia, hal itu menasi paradoks terbesar generasi muda. Lebih parahnya, perilaku digital dari pemuda jaman sekarang bertolak belakang dengan nilai-nilai ketimuran.

"Padahal, Indonesia dikenal ramah dan gotong royong, tapi di media sosial justru terkenal paling julid. Nilai-nilai ketimuran harus kembali ditanamkan di dunia digital,” dorong dia.

 

3 Hal Penting

Verrell pun mengusulkan tiga hal penting jika ada pembahasan RUU Kepemudaan.

Pertama, Mandat Resiliensi Digital yang tidak sekadar pelatihan teknis, melainkan fokus pada penguatan critical thinking dan kemampuan verifikasi fakta agar pemuda Indonesia memiliki ketahanan informasi yang berkelanjutan.

Kedua, Jaring Pengaman Mental dengan memberikan pengakuan tegas bahwa kesehatan mental adalah hak pemuda, sehingga perlu ada dukungan psikososial yang terintegrasi dalam ekosistem pembinaan kepemudaan dan ketiga, Literasi Ekonomi Digital.

"Literasi ekonomi digital adalag bentuk perlindungan dari maraknya scam dan hoax finansial kepada pemuda, hal itu harus menjadi bagian integral dari program pemberdayaan ekonomi pemuda. Sehingga Kemenpora tidak hanya berfokus pada olahraga-olahraga yang populis," dia menandasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya