Sinyal Kuat Bullish: IHSG 8.000 dan Emas USD 3.700 Dorong Optimisme Pebisnis

IHSG sentuh 8.000, emas pecahkan rekor USD 3.700! Simak strategi dari para pakar Bareksa Business Forum untuk memanfaatkan sinyal bullish dan menghindari risiko pasar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 28 September 2025, 10:00 WIB
Talks show “Business Forum 2025: Build Big, Scale Smart, Outlast the Chaos” yang diselenggarakan Super App Investasi Bareksa di Damai Indah - PIK Golf Course, Jakarta. (Dok Bareksa)

Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari 250 pebisnis berkumpul dalam acara Business Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Super App Investasi Bareksa di Jakarta, pekan ini. Fokus utama diskusi ini adalah bagaimana memaksimalkan peluang investasi dan keuntungan bisnis di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

Pelaku pasar menunjukkan optimisme di kuartal akhir 2025. Optimisme pasar muncul didukung sejumlah indikator kuat yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai level 8.000 dan harga emas terus mencetak rekor, menembus USD 3.700 per ons.

Namun, optimisme ini juga dibayangi tantangan seperti penurunan suku bunga, ketegangan geopolitik, pelemahan rupiah di atas Rp 16.500 per Dolar AS, dan defisit anggaran.

 

Chief Investment Officer Sucor Asset Management Dimas Yusuf menjelaskan, terdapat sinyal bullish (tren naik) yang kuat bagi pasar saham ke depan.

"Dengan proyeksi belanja fiskal ekspansif dan dukungan regulasi, peluang pertumbuhan PDB lebih tinggi terbuka, meski tetap ada risiko," jelas Dimas dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2025).

"Sentimen cenderung lebih bullish untuk saham dibanding obligasi, khususnya pada emiten dengan fundamental kuat ketimbang saham new economy,” tambah dia.

Masuknya investor institusi besar, seperti alokasi investasi BPJS Ketenagakerjaan ke saham yang diperkirakan mencapai Rp 70 triliun dalam dua tahun ke depan, menjadi sinyal positif.

Sentimen bullish ini makin diperkuat oleh kebijakan Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, yang dianggap pro-growth.

 

Strategi Investasi Jangka Panjang: Fokus pada Dividen

Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indonesia Value Investor Rivan Kurniawan memberikan panduan investasi yang menekankan keberlanjutan melalui dividen, tidak hanya sekadar mencari capital gain (keuntungan harga).

“Kalau tidak mendapat cuan besar dari harga, dividen masih bisa jadi pegangan yang nyaman,” ungkap Rivan.

Rivan menyarankan para pebisnis untuk menerapkan strategi disiplin reinvestasi dan memanfaatkan dividen sebagai sumber arus kas (cashflow) bulanan.

Investor dapat menyusun daftar saham yang secara rutin membagikan dividen—sebagian emiten bahkan membagikannya dua kali setahun—untuk menciptakan pendapatan pasif bulanan.

 

Tips Sektor Pilihan dari Rivan:

Pekerja melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/7/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perbankan: Selain saham konglomerasi yang sedang populer, saham perbankan, termasuk bank digital dan syariah, juga layak dipertimbangkan karena kinerjanya yang mulai mencatatkan laba.

Komoditas: Investor perlu mencermati sektor komoditas, termasuk emas (yang terus rekor), CPO (yang sedang naik daun), batu bara (berpotensi jadi primadona di 2026), serta oil & gas di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sektor Rokok: Meskipun saham rokok rebound setelah wacana penurunan cukai, Rivan mengingatkan investor untuk tetap mencermati fundamental perusahaan yang masih dibayangi tren penurunan pasar dan maraknya rokok ilegal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya