Liputan6.com, Jakarta - Warga di Eropa disarankan untuk menyimpan sejumlah uang tunai di rumah sebagai persiapan membayar kebutuhan pokok selama masa krisis. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis empat peristiwa besar yang menyebabkan gangguan di Eropa, termasuk pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Penelitian yang diterbitkan oleh European Central Bank (ECB) pada hari Rabu menunjukkan adanya lonjakan permintaan konsumen terhadap uang kertas di setiap rangkaian krisis tersebut.
Advertisement
Dikutip dari CNN, Sabtu (27/9/2025), uang fisik menawarkan kegunaan psikologis dan praktis yang berbeda, demikian temuan studi tersebut, yang judulnya mendesak masyarakat untuk keep calm and carry cash atau (tetap tenang dan bawa uang tunai).
Uang Tunai sebagai Cadangan
Temuan ini mendukung pengakuan yang berkembang di kalangan otoritas bahwa uang tunai adalah "komponen penting dari kesiapsiagaan krisis nasional," tulis para peneliti.
Sebagai contoh, otoritas di Belanda, Austria, dan Finlandia merekomendasikan rumah tangga untuk menyimpan sekitar USD 82 atau Rp 1,37 juta (estimasi kurs (Rp 16.715 per USD) hingga USD 117 atau Rp 1,95 juta per orang di rumah, atau cukup untuk menutupi kebutuhan penting selama sekitar 72 jam.
Di Swedia, rekomendasinya adalah menyimpan uang tunai yang cukup untuk membayar kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar setidaknya selama seminggu.
"Hitung total biaya barang-barang ini setidaknya selama seminggu untuk keluarga. Simpan uang tunai di rumah, dalam denominasi kecil, untuk tujuan perdagangan jika metode pembayaran digital terganggu," demikian saran resmi mereka.
ECB menjelaskan daya tarik uang kertas, menyebutkan bahwa di saat stres akut, publik melihat uang tunai sebagai penyimpan nilai yang andal dan alat pembayaran yang tangguh.
Krisis serupa terjadi pada April lalu, ketika pemadaman listrik besar-besaran melumpuhkan Spanyol dan Portugal, memengaruhi terminal pembayaran dan memaksa banyak toko hanya menerima pembayaran tunai.
"Uang tunai menyediakan redundansi esensial, 'ban serep' , untuk sistem pembayaran. Redundansi ini vital untuk sistem apa pun, karena tidak ada sistem yang sempurna,” tulis penulis studi tersebut.
Lonjakan Permintaan saat Krisis
Pandemi COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya memicu penimbunan uang tunai yang berkelanjutan oleh warga Eropa, didorong oleh ketidakpastian yang berkepanjangan, termasuk mengenai pendapatan mereka di masa depan.
Sementara itu, invasi skala penuh Moskow ke Ukraina memicu lonjakan permintaan uang tunai yang terkonsentrasi di negara-negara yang berbatasan dengan Ukraina atau Rusia.
Menurut para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat merespon semakin dekatnya potensi gangguan dengan cara mengumpulkan likuiditas yang mudah dibawa.
Memastikan warga Eropa siap menghadapi potensi krisis, seperti perang, menjadi agenda utama otoritas dalam beberapa tahun terakhir.
Pada bulan Maret, Komisi Eropa mengeluarkan panduan yang menyatakan warga Uni Eropa harus menimbun makanan dan kebutuhan pokok lainnya yang cukup untuk menopang mereka setidaknya selama 72 jam jika terjadi krisis.
Dokumen setebal 18 halaman itu menyebut Eropa menghadapi realitas baru yang lebih suram, perang di Ukraina, sabotase infrastruktur penting, dan peperangan elektronik sebagai faktor-faktor utama.
Panduan Bertahan Hidup
Tahun lalu, Swedia dan Finlandia juga memperbarui panduan kepada warganya tentang cara bertahan hidup dalam perang.
Buklet yang dibagikan kepada rumah tangga mencakup instruksi tentang cara mempersiapkan pemadaman komunikasi, pemadaman listrik, dan cuaca ekstrem.
Saran yang diberikan berkisar dari menimbun air minum kemasan dan produk sanitasi, hingga menanam bahan makanan yang dapat dimakan di rumah.