Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah taman yang sejuk, Ezra dan Felicia duduk berdua dalam percakapan yang hangat. Ezra tiba-tiba memeluk Felicia erat, sebagai bentuk penerimaan tanpa syarat—menerima Felicia apa adanya, dengan segala kekurangannya. Pelukan itu membuat hati Felicia hangat. Namun, suasana mendadak berubah ketika Omar muncul.
Tanpa banyak kata, Omar menghampiri dan menarik Felicia menjauh dari Ezra. Dengan nada tegas, Omar berkata, “Akan lebih baik kalau pernikahan ini nggak pernah terjadi.” Felicia membeku. Kata-kata Omar menghantam seperti badai. Matanya langsung basah, air mata tak terbendung. Ia tak sanggup berkata apa-apa.
Advertisement
Sementara itu, suasana di rumah sakit sangat ramai. Aluna tak sadarkan diri dan sedang dibawa ke ruang IGD. Kerumunan orang memenuhi lorong, beberapa bahkan merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Semua heboh karena Aluna disebut-sebut sebagai korban percobaan pembunuhan.
Di tempat lain, Jovita mendatangi Galaxy di tempat kerjanya. Ia menunjukkan sebuah video yang memperlihatkan kondisi Aluna saat ditemukan. Dengan suara pelan tapi berat, Jovita berkata, “Aluna… sudah meninggal.” Galaxy terpaku. Wajahnya langsung pucat. “Apa?” gumamnya, nyaris tak terdengar. Ia menolak percaya.
Galaxy Tiba di Rumah Sakit
Dengan langkah terburu-buru dan napas memburu, Galaxy tiba di rumah sakit. Ia langsung bertanya tentang kondisi Aluna. Tapi suster yang menyambut hanya mengarahkan Galaxy ke ruang jenazah. “Tidak… nggak mungkin,” ucap Galaxy lirih, menatap suster dengan mata penuh tanya. Suster mencoba menjelaskan kondisi korban, tapi Galaxy sudah kehilangan fokus. Pandangannya kosong. Kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di lantai koridor, dan akhirnya menangis.
Tangis Galaxy pecah, sesal membuncah dalam dada. “Kalau aja aku tepatin janji… kalau aja aku bisa jaga dia seperti yang aku bilang…” Ia menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan semua janji yang tak pernah terpenuhi. Bagi Galaxy, kalau saja ia ada di sana, mungkin… Aluna masih hidup.