Liputan6.com, Jakarta - Seorang artis Kpop telah bergabung dengan gerakan global "No Music for Genocide." Di tengah gencarnya serangan Israel terhadap warga Palestina, terutama di Jalur Gaza, para seniman dari seluruh dunia bersuara lantang menentang kekejaman tersebut.
Salah satu aksi kolektif yang ramai dibicarakan di dunia maya adalah inisiatif "No Music for Genocide" yang baru diluncurkan, yang telah diikuti lebih dari 400 penyanyi dan seniman di seluruh dunia, rangkum Koreaboo, Sabtu (20/9/2025).
Advertisement
Gerakan ini menyerukan boikot budaya terhadap Israel dengan menghapus musik para penandatangan dari streaming platform Israel sebagai protes atas genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Beberapa nama besar yang telah bergabung dalam gerakan ini antara lain band Inggris Massive Attack, band Irlandia Kneecap, band indie Amerika Japanese Breakfast, dan bintang pop Rina Sawayama.
Terungkap pula bahwa seorang artis Kpop juga telah bergabung dalam boikot tersebut: BÉBE YANA. Ia dilaporkan telah memblokir semua musiknya di Israel, menegaskan dukungan untuk Palestina.
Seruan Bebaskan Palestina
Namanya juga muncul di situs web gerakan tersebut. BÉBE YANA, sebelumnya dikenal sebagai Hayana, adalah penyanyi-penulis lagu Australia-Korea Selatan. Ia juga merupakan mantan anggota grup vokal wanita EvoL.
Pada 2017, ia memulai debutnya sebagai solois dengan singel digital pertamanya, "Wish." Setelah hiatus dari tahun 2017 hingga 2021, ia mengubah namanya jadi BÉBE YANA dan melanjutkan karier musiknya. Saat ini, ia bergabung dengan label rekaman dan perusahaan distribusi yang berbasis di Seoul, A Mass Culture.
Berita mengenai bergabungnya BÉBE YANA dalam boikot ini telah membuatnya mendapat pujian besar dari penggemar Kpop. Banyak yang menyerukan artis terkemuka lain di industri ini untuk mengikuti jejaknya.
"BÉBE YANA x NO MUSIC FOR GENOCIDE 💿🚫 TIDAK ADA SENI UNTUK APARTHEID, TIDAK ADA MUSIK UNTUK GENOSIDA. BEBASKAN PALESTINA," bunyi keterangan unggahan Instagram-nya, Kamis, 18 September 2025.
Menekan Label Rekaman Besar
Melansir Anadolu Agency, dalam pernyataan yang dirilis penyelenggara kampanye, boikot tersebut bertujuan menekan label rekaman besar—termasuk Sony, Universal, dan Warner—untuk mengikuti contoh yang mereka berikan setelah invasi Rusia ke Ukraina dengan mengambil langkah serupa terhadap Israel.