Motif Pembunuhan Kepala Cabang Bank: Rencana Jahat Pindahkan Rekening Dormant ke Penampung

Polisi mengungkap kasus tewasnya tewasnya MIP (37), kepala cabang bank BUMN. Dibalik tewasnya MIP, rupanya tersimpan motif untuk rencana busuk untuk memindahkan aliran uang dari rekening dormant ke rekening penampung.

oleh Ady AnugrahadiDiperbarui 16 September 2025, 15:42 WIB
Penculikan Kepala Cabang Bank di Jakarta Hingga Ditemukan Meninggal. (Liputan6.com/istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Polisi mengungkap kasus tewasnya tewasnya MIP (37), kepala cabang bank BUMN. Dibalik tewasnya kepala cabang bank MIP, rupanya tersimpan motif untuk rencana busuk untuk memindahkan aliran uang dari rekening dormant ke rekening penampung.

"Motif dari pada pelaku melakukan perbuatannya yaitu para tersangka berencana untuk melakukan pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan yang telah dipersiapkan," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Wira Satya Triputra saat konferensi pers, Selasa (16/9/2025).

Wira mengatakan, rencana jahat itu sudah terpikirkan sejak Juni 2025. Seorang tersangka berinisial C alias K mengkalim punya data rekening dormant dari sejumlah bank yang akan digeser ke rekening penampung.

Namun untuk mengeksekusi rencananya ini, dibutuhkan otoritas seorang kepala cabang bank. Dari sinilah C alias K mulai beraksi mencari orang-orang yang mau diajak untuk kong-kalikong untuk memuluskan rencana pemindahan dari rekening dormant ke rekening penampung yang telah dipersiapkan.

"Kemudian C menyampaikan karena upaya sebelumnya mendekati kepala cabang tidak berhasil, maka pekerjaan pergeseran dana tersebut akan berhasil apabila dilakukan dengan dua opsi atau metode," ucap Wira.

Tanggal 30 Juli 2025, C alias K menggelar rapat bersama dua orang tersangka DH dan AAM. Di meja itu, dua opsi diusulkan. Pertama, korban hanya dipaksa untuk mematuhi perintah lalu dilepas. Kedua, korban tetap dipaksa, lalu dibunuh.

Diskusi kemudian berlanjut pada 31 Juli dan 12 Agustus. Lewat percakapan WhatsApp, akhirnya C alias K memilih opsi pertama yaitu melakukan pemaksaan dengan kekerasan setelah itu korban dilepaskan.

Pada 16 Agustus 2025, DH menghubungi JP di kawasan Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur. Ketika itu, JP menanyakan adakah orang yang bisa membantu, entah sipil atau aparat.

 

Agenda Pertemuan

Satu pelaku penculikan kepala kantor cabang bank di Jaktim ditangkap di NTT. (Liputan6.com/istimewa)

Wira menjelaskan, keesokan harinya, JP menindaklanjuti dengan mendatangi rumah Serka N, oknum Anggota TNI. Malamnya, di sebuah kafe di Cibubur, empat orang yaitu DH, JP, AAM, dan N berkumpul.

"Agenda pertemuan menyiapkan penculikan terhadap MIP. Jadi dalam pertemuan tersebut ada empat orang hadir. Dengan tujuan untuk membahas persiapan untuk dilakukan penculikan terhadap korban," ucap dia.

Tanggal 18 Agustus 2025, pertemuan berlanjut. Kali ini hadir DH, AAM, JP, dan M di sebuah kafe lain di kawasan yang sama. Mereka membagi peran. DH dan AAM bertugas menyiapkan tim pengintai, dengan tiga orang anggota yakni R, E, dan B.

JP menyiapkan tim lain untuk membuntuti korban, termasuk orang berinisial AW. Sedangkan M ini bukan M tapi Serka N menghubungi Kopda FH, yang juga oknum prajurit TNI.

"Sehari kemudian, 19 Agustus 2025, FH mengatur pertemuan di Cijantung. Ia membawa E, B, R, dan A," terang Wira.

Di sana, FH menunjukkan foto calon korban dan memberi perintah untuk mejemput orang ini, lalu serahkan kepada tim yang sudah dipersiapkan JP.

Bahkan, sebuah 'safe house' sudah disiapkan, tempat di mana korban akan dipaksa untuk melakukan kegiatan pemindahan dana.

"Puncaknya terjadi pada 20 Agustus 2025. Sejak siang, tim eksekutor membuntuti MIP. Sekitar pukul 15.30 WIB, di parkiran Lotte Mart, Jakarta Timur, mereka bergerak," papar Wira.

 

Korban Dibawa Paksa

Tampang empat aktor intelektual atau dalang dari insiden penculikan disertai pembunuhan terhadap kepala cabang bank di Jakarta berinisial IP. (Dok. Istimewa)

Wira mengatakan, avanza putih yang disiapkan menunggu. Begitu korban menuju mobilnya, komplotan E, R, B, dan A menyergap. MIP ditarik paksa, diikat, dilakban, lalu dimasukkan ke dalam Avanza.

"Di mana didalam penculikan tersebut kelima pelaku menggunakan Avanza putih. Ini terekam CCTV," kata dia.

Malam harinya, lanjut Wira, sekitar pukul 21.00 WIB, korban dipindahkan ke mobil Fortuner hitam di kawasan Kemayoran.

Di mobil itulah, ia berada dalam kekuasaan JP, M, U, dan D. Rencananya, korban akan dibawa ke safe house untuk dipaksa memindahkan dari rekening dormant ke rekening penampung. Namun tim penjemput yang dijanjikan C alias K tak kunjung datang. Sementara kondisi korban semakin lemah.

Akhirnya dibuang di kawasan Serang Baru, Cikarang. Tubuhnya dibiarkan tergeletak, masih terikat.

"Karena tim penjemput tidak kunjung datang, sedangkan pada saat itu korban kondisi sudah dalam keadaan lemas. Akhirnya korban dibuang di Serang Baru, Cikarang dalam keadaan kondisi kaki masih terikat dan mulut dalam kondisi terlakban," ucap

Keesokan harinya, 21 Agustus 2025, warga melapor ke Polsek Cikarang. Polisi menemukan jasad MIP, dan hasil visum sementara menunjukkan ia meninggal akibat kekerasan benda tumpul yang menekan leher, membuat saluran napas dan pembuluh nadi besar tersumbat.

"Kami sudah dapati hasil visum et repertum di mana korban meninggal akibat kekerasan benda tumpul pada leher yang menekan jalan nafas dan pembuluh nadi besar sehingga menyebabkan mati lemas namun hasil tersebut belum final. Karena kami masih menunggu hasil pemeriksaan toksikologi," ujar dia.

Penyelidikan dilakukan. Hasilnya, polisi berhasil meringkus 15 orang. Mereka dibagi dalam empat klaster otak perencana, eksekutor penculikan, penganiaya yang menyebabkan korban tewas, dan tim surveillans yang membuntuti.

Infografis Jejak Kopda FH dalam Kasus Pembunuhan Kepala Cabang Bank. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya