Angka Disabilitas Netra Tinggi, Dokter Ini Lanjutkan Studi di London dan Berharap Pulang Bawa Solusi

Punya niat tekan angka kebutaan di Indonesia, dokter lulusan Unair lanjut studi di London.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 14 September 2025, 20:00 WIB
Ilustrasi: Angka Disabilitas Netra Tinggi, Dokter Ini Lanjutkan Studi di London dan Berharap Pulang Bawa Solusi. Foto: wirestock/Freepik.

Liputan6.com, Jakarta - Tekad menurunkan angka disabilitas netra (bukan bawaan) di Indonesia menjadi motivasi utama dr Made Chindy Dwiyanti Marheni Putri untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Alumni S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2017 ini berhasil diterima di program MSc Ophthalmology di University College London (UCL) melalui beasiswa LPDP.

“Saya ingin memahami bidang ini lebih mendalam sebelum menempuh pendidikan spesialis. Saat menjadi dokter muda di RSUD Dr Soetomo, serta saat internship di puskesmas dan rumah sakit tipe C, saya melihat tantangan besar dalam pelayanan kesehatan mata di Indonesia,” kata Cindy, mengutip unair.ac.id, Minggu (14/9/2025).

Pengalaman itu seolah membuka mata Cindy bahwa masih banyak yang perlu dibenahi dan dikembangkan dalam layanan kesehatan mata di Tanah Air. Melalui studi ini, ia berharap dapat memperluas wawasan, berdiskusi dengan kolega dari berbagai negara, dan belajar langsung dari para ahli terbaik di bidang oftalmologi.

Seleksi LPDP yang diikutinya terdiri atas tiga tahap, yaitu administrasi, skolastik, dan substansi. Chindy menuturkan bahwa langkah awal yang dilakukannya adalah mencari Letter of Acceptance (LoA) dari UCL.

“Dengan LoA sebelum penutupan tahap administrasi, saya mendaftar melalui jalur Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD). Keuntungannya, saya bisa langsung melanjutkan ke tahap substansi tanpa tes skolastik. Seluruh proses persiapan ini saya jalani di tengah kesibukan internship di Bali, yang tentu menjadi tantangan tersendiri,” jelas dokter muda itu.

 

Salah Satu Institusi Terbaik Dunia di Bidang Oftalmologi

Alumni FK Unair dr Made Chindy Dwiyanti Marheni Putri, bertekad turunkan kebutaan di Indonesia. Foto: Unair.ac.id.

Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah penulisan esai kontribusi, yang mengharuskannya merefleksikan diri secara mendalam.

Untuk menyelesaikan esai tersebut, Chindy banyak membaca dan mengamati kondisi pelayanan kesehatan mata di tempatnya bekerja.

“Dari proses itu, saya mulai menemukan arah serta langkah konkret yang dapat saya tempuh pasca studi, demi mewujudkan kontribusi nyata,” tambahnya.

Chindy memilih University College London karena reputasinya sebagai salah satu institusi terbaik di dunia dalam bidang oftalmologi, dengan kerja sama erat bersama Moorfields Eye Hospital di Inggris.

Menurutnya, banyak tokoh penting dan peneliti hebat lahir dari UCL, sehingga menjadi kehormatan besar baginya untuk belajar di sana.

“Program MSc in Ophthalmology di UCL menawarkan kurikulum yang seimbang antara teori, praktik klinis, dan riset. Program ini sesuai dengan tujuan saya untuk memperkuat landasan keilmuan sebelum menempuh pendidikan spesialis. Agar lebih siap menangani pasien di masa depan,” tuturnya.

 

 

Ingin Jadi Bagian dari Solusi Masalah Mata di Indonesia

Selain itu, Chindy menilai FK UNAIR berperan penting dalam membentuk karakter dan motivasinya.

“Di FK UNAIR saya dilatih menyeimbangkan studi, organisasi, dan penelitian. Ketiganya penting untuk menumbuhkan kepekaan terhadap isu kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Usai menyelesaikan studi di UCL, Chindy berharap dapat menerapkan ilmu yang diperoleh secara langsung saat menempuh pendidikan spesialis. Sejalan dengan itu, ia juga berharap dapat mengimplementasikan ilmunya kelak saat menjadi dokter spesialis mata.

“Fokus utama saya adalah turut menurunkan angka kebutaan di Indonesia, yang hingga kini masih tergolong tinggi. Saya ingin menjadi bagian dari solusi, baik melalui pelayanan klinis maupun inisiatif strategis yang bisa memperbaiki sistem kesehatan mata di tanah air,” tutupnya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya