Liliyana Natsir Singgung Problem Regenerasi Bulu Tangkis di Haornas 2025

Memperingati Hari Olahraga Nasional 2025, mantan altet ganda campuran bulu tangkis Liliyana Natsir menyinggung perihal regenerasi yang masih jadi problem di kancah bulu tangkis Indonesia.

oleh Theresia Melinda IndrasariDiterbitkan 09 September 2025, 20:15 WIB
Pasangan ganda campuran, Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad menjadi peraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro 2016 setelah kalahkan pebulutangkis Malaysia, Liu Ying Goh dan Peng Soon Chan. Mereka berhasil menghentikan puasa gelar pada ajang Olimpiade sebelumnya. (Foto: AFP/Goh Chai Hin)

Liputan6.com, Jakarta Mantan atlet ganda campuran Liliyana Natsir mengungkap harapan besarnya untuk cabor bulu tangkis berkenaan dengan diperingatinya Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2025.

Peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 itu ingin Merah Putih mempercepat proses regenerasi atlet agar bisa berprestasi secara merata di kelima sektor, baik tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, maupun ganda campuran.

Pasalnya mengambil contoh dari nomor ganda campuran, Indonesia kesulitan menemukan pasangan yang konsisten menempati level tertinggi pasca Owi/Butet gantung raket.

"Sebagai mantan atlet yang dulu berprestasi, harapannya pasti (bulu tangkis) Indonesia berprestasi, bukan hanya di satu sektor, tapi lima sektor," ujar Liliyana alias Butet saat ditemui awak media saat sela-sela Audisi Umum PB Djarum 2025 yang digelar bertepatan dengan Haornas 2025 di GOR Djarum, Jati, Kudus, pada Selasa (9/9/2025).

"Kemudian (harapannya), regenerasi juga bisa cepat. Jadi mungkin ketika seniornya sudah pensiun, ada (pengganti) lagi. Jangan terlalu jauh jenjangnya, sehingga ejadian seperti saya--setelah pensiun, ada jeda lagi untuk mencari penggantinya (tidak terjadi)" tambah dia.


Berharap Tiru China

Mantan atlet bulu tangkis peraih emas ganda campuran Olimpiade Rio 2016, Liliyana Natsir. (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Lebih lanjut, Liliyana Natsir juga ingin agar Indonesia ke depannya mampu meniru China dalam hal regenerasi. Para pebulu tangkis dari negeri tirai bambu selalu punya pelapis yang levelnya bersaing, bahkan sejak sebelum pensiun.

"Kita (perlu) mencontoh negara-negara lain, khususnya seperti China. Seniornya sudah turun, ada lagi, ada lagi, ada lagi (penerusnya), sehingga tidak pernah putus," katanya.

"Itu harapannya ke depan buat bulu tangkis, jadi tidak khawatir (osoal prestasi)," tandasnya.


Ganda Campuran Indonesia Mulai Bangkit

Ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan  Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti usai berlaga pada final Taipei Open 2025. Jafar/Felisha menang 18-21, 21-13, dan 21-17 di Taipei Arena, Minggu (11/5). (foto: PBSI)

Terlepas dari problem regenerasi yang jadi perhatian, Liliyana Natsir nampak masih optimistis dengan sektor ganda campuran.

Setelah sekian lama, nomor itu kembali menunjukkan geliat prestasi berkat kehadiran Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Menurut Butet, keduanya punya prospek cerah asalkan bisa menambah jam terbang.

"Sejauh ini kalau kita lihat, untuk atlet muda, Jafar/Felisha cukup menjanjikan. Tapi saya pernah bilang juga waktu itu, jangan cepat puas," ujar Liliyana.

"Mereka kan masih di Super 300, masih kelihatan di Super 500 belum terlalu stabil juga, apalagi (menghadapi) pemain top. Mereka masih mempelajari dan masih butuh pengalaman," tutupnya.


Jadi Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum

Sebagai informasi, Liliyana Natsir saat ini sedang menjalankan tugas sebagai tim pencari bakat Audisi Umum PB Djarum 2025.

Dia bertugas memantau potensi yang diperlihatkan atlet muda selama menjalani fase screening hingga turnamen di GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah mulai 8-12 September mendatang.

Adapun Audisi Umum PB Djarum merupakan ajang tahunan yang dimakskudkan untuk menggaet talenta muda menjadi atlet binaan. Legenda jebolan klub diundang untuk menjadi bagian dari penyeleksi di ajang ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya