Liputan6.com, Jakarta - Danuel memandang Mohan dengan sorot mata yang dalam. Air matanya berhenti sejenak, lalu sebuah senyuman muncul di wajahnya—hangat, tapi terasa getir. Di hadapannya, Mohan menunduk. Bahunya sedikit bergetar.
"Aku sering merasa sendirian... tapi ternyata, aku punya banyak keluarga," ucap Mohan lirih.
Advertisement
Tanpa berkata-kata, Danuel mengulurkan tangan. Borgol di pergelangannya disentuhkan perlahan ke kepala Mohan, sebuah isyarat sederhana tapi penuh makna.
Di sisi lain ruangan, Valerian berdiri kaku di sebelah kanan. Matthew bersandar di meja, ekspresinya muram. Suasana terasa tegang, nyaris membeku. Lalu terdengar suara tongkat Dominique yang mengetuk lantai, memecah keheningan.
Valerian menelan ludah. Ia memalingkan wajah ke arah Dominique dan berkata pelan tapi tegas, "Ares. Cassandra. Kita harus tahan mereka supaya nggak bergerak."
Sementara itu, Aqeela menatap layar dengan tatapan fokus dan serius. Di sebelahnya, Harry masih sibuk menari di atas keyboard—kerja keras dan konsentrasi penuh.
Operation Tahu Bulat Meledak
Dengan tenang, Aqeela berdiri tegak dan berkata, "Misi kita hari ini: Operation Tahu Bulat Meledak."
Harry spontan menoleh dan tersenyum kecil, penuh rasa sayang. "Kamu tuh selalu aja punya cara bikin aku senyum."
Earbud sudah terpasang di telinga mereka masing-masing. Keduanya bersiap. Dari frekuensi lain, suara Fatta terdengar: "Kunjungan udah selesai."
Harry merespons cepat, "Bisa aja mereka sengaja mundur buat pasang perangkap. Kita nggak boleh lengah!"
Zara, Mohan, dan Fattah serempak mengangguk. Waspada penuh. Mereka tahu, misi ini belum selesai.