Eks Pelatih Olimpiade Beber 4 Nama yang Bisa Jadi Tulang Punggung Bulu Tangkis Indonesia

Mantan pelatih ganda campuran Indonesia Richard Mainaky menilai badminton Merah Putih punya harapan bangkit berkat keberadaan 4 tulang punggung masa depan: Jafar/Felisha, Alwi, dan Putri KW.

oleh Theresia Melinda IndrasariDiterbitkan 08 September 2025, 17:00 WIB
Ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan  Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti usai berlaga pada final Taipei Open 2025. Jafar/Felisha menang 18-21, 21-13, dan 21-17 di Taipei Arena, Minggu (11/5). (foto: PBSI)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan pelatih ganda campuran Indonesia Richard Mainaky menyebut saat ini ada empat atlet muda yang berpotensi jadi tulang punggung masa depan badminton Indonesia.

Mereka adalah pasangan ganda campuran Jafar Hidayatullah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, tunggal putra Alwi Farhan, serta tunggal putri Putri Kusuma Wardani.

Sebagaimana diketahui, Jafar/Felisha memang sukses mencuri perhatian setelah keluar sebagai juara Taipei Open 2025 pada Mei lalu.

Mereka telah mencatatkan debut di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2025, meski langkahnya dihentikan oleh pasangan Malaysia Chen Tang Jie/Toh Ee Wei lewat pertarungan sengit rubber game 14-21, 21-19, dan 21-17 pada 28 Agustus.

Di sisi lain, Alwi Farhan juga baru saja menjuarai Macau Open 2025. Sementara itu, Putri Kusuma Wardani membuat pencapaian gemilang dengan menjadi semifinalis Kejuaraan Dunia 2025 lantaran dihentikan Akane Yamaguchi asal Jepang di empat besar.

"Kalau kita lihat, di ganda campuran ada seperti Felisha (dan Jafar). Itu satu otomatis (pemain) masa depan kita," ujarnya saat ditemui awak media di GOR Djarum, Jati, Kudus pada Senin (8/9/2025).

"Tunggal putra (juga ada) Alwi ya. Lalu ke bawah Putri KW, tunggal putri. Sebetulnya ada potensi-potensi generasi yang bagus ke depan," tambah pria yang pernah mengantar Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 itu.


Sering Antiklimaks

Putri Kusuma Wardani dari Indonesia bereaksi saat bertanding melawan Tomoka Miyazaki dari Jepang dalam pertandingan putaran ketiga tunggal putri Kejuaraan Dunia Bulutangkis, Kamis, 28 Agustus 2025 di Paris, Prancis. (AP Photo/Aurelien Morissard)

Terlepas dari adanya bibit menjanjikan, Richard Mainaky menilai stakeholder bulu tangkis, baik klub maupun federasi masih punya PR besar mencari solusi untuk menjaga konsistensi atlet.

Pasalnya hingga kini, tak sedikit atlet yang antiklimaks lantaran prestasinya mandek begitu tiba di pelatnas.

"Sekarang pekerjaan rumah kita itu, setelah mereka lolos di audisi (untuk dibina di klub), lolos karantina, itu (perlu dilihat) perkembangannya seperti apa," kata Richard lagi.

"Kita lihat audisi itu (pesertanya bisa sampai) dua ribuan, tetapi kenapa kalau sampai di pelatnas kita susah cari atlet (berkualitas)? Susah, kehabisan bakat. Nah, ini PR buat kita," imbuhnya.


Sarankan Klasifikasi Atlet

Richard Mainaky didapuk jadi bagian dari tim pencari bakat Audisi Umum PB Djarum 2025. (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Untuk itu agar bakat menjanjikan tak terbuang sia-sia, Richard Mainaky menyarankan agar pelatih di PBSI membuat sistem klasifikasi yang memisahkan para pemain elite untuk diikutsertakan dalam Olimpiade.

Lanjut Baca:

Mekanisme ini pernah idlakuka Richard dahulu kala saat masih melatih ganda campuran pelatnas. Dia kala itu memisahkan pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta Praveen Jordan/Debby Susanto dari pemain lain agar lebih fokus mempersiapkan diri menatap turnamen bergengsi. "Sekarang kita harus bikin tim elite untuk Olimpiade. Jadi tim (itu ada) tim elite buat olimpiade, kemudian ada pelatnas utama pertama, dan pratama," katanya lagi. "Kalau tim elite itu sudah tidak bisa ganggu, dia harus diberi fasilitas yang di atas, makan secara pisah, saya dulu bikin seperti itu (di pelatnas)," tandas Richard.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya