Liputan6.com, Jakarta- Pembalap Indonesia, Sean Gelael bersama rekan setimnya Darren Leung dan Marino Sato berhasil menjadi pemenang balapan FIA WEC 6H Cota di Amerika Serikat. Pada ajang tersebut sebenarnya tim United Autosport nomor 95 hanya inis kedua dalam balapan, namun mereka akhirnya berhak mendapatkan podium utama. Mereka menggusur tim AF Corse nomor 54 karena mendapatkan penalti 5 detik.
“Alhamdulillah akhirnya kami mendapatkan podium pertama musim ini dan podium utama. Terima kasih untuk rekan saya yang sudah berjuang keras dan tim yang mempersiapkan mobil dengan sangat baik,” kata Sean, Brand Ambassador Pertamax Turbo, seusai balapan.
Advertisement
Kemenangan ini begitu penting bagi Sean karena sebuah penantian panjang untuk mendapatkan apa yang seharusnya dia dan tim United Autosports 95 pantas meraihnya. Lone Star Le Mans menjadi balapan enam jam yang mendebarkan bagi Sean, Marino Sato, dan Darren Leung karena nyaris sepanjang lomba hujan terus mengguyur dan bahkan race sempat dihentikan.
Balapan di Circuit of The Americas (COTA) yang merupakan putaran enam FIA WEC (World Endurance Championship) dan digelar pada Minggu (7/9) atau Senin dini hari WIB itu mesti dipandu oleh Safety Car (SC). Hujan yang tak berhenti membuat SC berada di trek selama hampir satu jam sebelum akhirnya Race Director WEC, Eduardo Freitas memutuskan untuk menghentikan sementara (red flag).
Menariknya, Darren yang menjadi pembalap pertama United Autosports dan start dari P3 malah ada di P1 saat red flag. Itu disebabkan dua pembalap di atasnya memilih untuk masuk pit selama SC ada di trek. Memanfaatkan bahan bakar yang bisa dihemat, Darren pun sekaligus menghabiskan jatah menyetirnya setelah balapan dilanjutkan.
Taktik Jitu
Taktik itu menolong Sean dan Marino. Sean berhasil mempertahankan posisi lomba di tiga besar di sepanjang dia menyetir, kecuali pada momen di mana ada pembalap yang memiliki strategi berbeda ada di depannya.
Yang paling menegangkan tentu saja ketika Marino menyetir. Dia mendapatkan posisi nyaman dari Sean, tergantung situasi lomba bisa di P2 atau P3. SC yang keluar berkalil-kali karena beragam insiden di lintasan yang senantiasa basah membuat posisi Sato juga tak nyaman. Kadang menjauh, tapi juga bisa mendekat lagi dengan pebalap di depan dan di belakangnya.