Liputan6.com, Jakarta - Komisaris PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Alexander Ramlie membeli 229,89 juta saham AMMN.
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (4/9/2025), Komisaris PT Amman Mineral Internasional Tbk Alexander Ramlie membeli saham AMMN secara bertahap.
Advertisement
Pertama, ia membeli saham AMMN 3,40 juta saham dengan harga Rp 7.794 per saham pada 28 Agustus 2025. Selanjutnya ia membeli saham AMMN pada 1 September 2025 dengan jumlah saham yang ditransaksikan 226.495.560 saham dengan harga Rp 8.074 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi itu sekitar Rp 1,14 triliun.
"Tujuan transaksi untuk penataan kembali jaminan saham,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Setelah transaksi, Ramlie memiliki 335.304.360 saham AMMN atau setara 0,462% dengan status kepemilikan langsung. Kemudian 1 Senin, September 2025, Alexander membeli 226.495.560 saham AMMN atau setara 0,317%.
Dengan transaksi itu, Alexander kini memiliki 335.304.360 saham AMMN atau setara 0,462%. Sebelumnya, ia mengenggam 105.408.000 saham AMMN atau setara 0,145%.
Pada penutupan perdagangan saham, Rabu, 3 September 2025, harga saham AMMN naik 0,31% ke posisi Rp 8.025 per saham. Harga saham AMMN dibuka naik 175 poin ke posisi Rp 8.175 per saham. Saham AMMN berada di level tertinggi Rp 8.250 dan terendah Rp 7.925 per saham. Total frekuensi perdagangan 12.180 kali dengan volume perdagangan 278.786 saham. Nilai transaksi Rp 223,3 miliar.
Produksi Logam Turun di 2025, Intip Target Amman Mineral Internasional
Sebelumnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengumumkan proyeksi produksi logam yang lebih rendah pada tahun 2025 seiring dengan peralihan dari penambangan bijih segar di Fase 7 menuju penambangan material batuan penutup di Fase 8.
Akibatnya, bijih yang diproses sebagian besar akan berasal dari stockpile dan bijih segar berkadar rendah dari lingkaran luar Fase 8, yang memiliki kandungan tembaga dan emas lebih rendah dibandingkan bijih dasar Fase 7 dan 8.
"Kami memperkirakan produksi logam yang lebih rendah pada tahun 2025 karena peralihan operasional dari Fase 7 ke Fase 8. Namun, kami optimis produksi akan meningkat signifikan pada 2026 seiring dengan pencapaian inti bijih Fase 8," kata Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, Alexander Ramlie dalam keterbukaan informasi Bursa, Kamis (20/3/2025).
Pada tahun 2025, perusahaan mengantisipasi produksi konsentrat sebesar 430.000 metrik ton kering, yang diproyeksikan mengandung 228 juta pon tembaga dan 90.000 ons emas. Namun, produksi logam diperkirakan meningkat secara signifikan pada 2026 saat perusahaan mencapai inti bijih di Fase 8, bahkan melampaui kinerja historis sebelumnya.
Transformasi Bisnis
Sebagai bagian dari transformasi bisnis dan peningkatan kapasitas smelter yang sedang berlangsung, perusahaan menerapkan pendekatan konservatif terhadap operasionalnya pada tahun 2025. "Kami mengambil pendekatan konservatif dalam operasional tahun ini untuk memastikan kelancaran ramp-up smelter dan optimalisasi produksi di masa depan," tambah juru bicara tersebut.
Pada kuartal keempat tahun 2024, sebagian dari produksi konsentrat telah dicadangkan guna mendukung proses ramp-up smelter. Hal ini menyebabkan sekitar 190.000 metrik ton kering konsentrat tersimpan hingga akhir 2024, dengan penjualan ditunda hingga kapasitas produksi smelter meningkat.
Pada 12 Februari 2025, perusahaan berhasil memproduksi anoda tembaga pertama, menandai tonggak penting dalam proyek smelter.
"Produksi anoda tembaga pertama ini merupakan langkah besar dalam proyek kami. Kami menargetkan produksi katoda tembaga pertama pada akhir Maret 2025," imbuh Alexander.
Panduan Produksi
Panduan produksi ini bergantung pada estimasi bijih yang ditambang dan konsentrat yang dihasilkan. Mengingat tantangan dalam meningkatkan kapasitas smelter, memperkirakan total produksi katoda tembaga dan emas batangan sepanjang tahun masih menjadi tantangan.
Untuk mengatasi potensi keterbatasan produksi smelter, perusahaan berencana secara resmi mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mendapatkan izin ekspor konsentrat.
"Kami akan bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan produksi dan ekspor yang sesuai dengan regulasi yang berlaku," kata Alexander.