Liputan6.com, Jakarta - Aksi menyampaikan pendapat yang terjadi sepekan terakhir membesar dan meluas ke dalam situasi anarkis. Menyikapi hal tersebut, Analis Politik Senior Boni Hargens menyesalkan jika ada oknum tidak jelas berupaya mengail di air keruh dengan membenturkan massa rakyat dengan aparat keamanan.
"TNI dan Polri adalah bagian dari rakyat. Mereka bukan musuh rakyat. Maka, perlu ada kesalingpahaman dan bahu-membahu dalam memperjuangan kehidupan demokrasi yang lebih baik," kata pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif LPI melalui siaran pers.
Advertisement
Boni pun mengutuk tindakan aparat dalam kematian saudara Affan Kurniawan, pengemudi ojek online. Karenanya, saat ini Polri sudah menyatakan dengan tegas komitmen untuk memperbaiki kinerja.
"Kita semua menjadi saksi sejarah bahwa hal macam ini tidak boleh lagi terjadi di masa depan. Sebagaimana ditegaskan Kapolri Listyo Sigit sebelumnya bahwa Polri yang humanis adalah polri yang dikehendaki rakyat, maka komitmen itu harus dihargai," yakin dia.
Waspada Penumpang Gelap
Boni percaya, rakyat berhak bersuara dan menyatakan protes karena konstitusi membolehkan itu dan karena rakyatlah pemilik kekuasaan. Namun, kita tidak mau rakyat dijadikan mainan oleh penumpang gelap yang ingin menghancurkan institusi negara.
"Tujuan perjuangan rakyat adalah menciptakan demokrasi yang pro rakyat, maka kita semua fokus pada tujuan itu tanpa harus saling menyerang di antara kita," harap Boni.
Boni optimistis, apapun bentuk gerakan rakyat hari ini, negara sudah seharusnya melihat itu sebagai masukan yang baik dan belajar dari perisitwa ini untuk perbaikan yang substantif ke depan.
"Jadi dalam rangka menempatkan rakyat sebagai tujuan teleologis dari kehidupan berdemokrasi," dia menandasi.