Liputan6.com, Jakarta - Puluhan ribu orang melakukan aksi demonstrasi di seluruh kota Israel pada Selasa (27/8/2025) waktu setempat. Mereka memblokir jalan raya untuk mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengakhiri perang dan membatalkan rencana menyerang Kota Gaza.
Keluarga para sandera memimpin pawai dan demonstrasi terbesar di Tel Aviv. Sementara di Yerusalem, ratusan orang berkumpul di luar kantor perdana menteri saat kabinet keamanan bertemu untuk membahas perang.
Advertisement
Terdapat puluhan protes lain di seluruh negeri, termasuk di jalan raya utama menuju kota Haifa di utara dan di dalam bandara Ben Gurion.
Militer Israel telah diperintahkan untuk mempercepat persiapan serangan darat di Kota Gaza. Meskipun para mediator mengatakan, mereka sedang menunggu tanggapan Israel atas perjanjian gencatan senjata yang sudah dibahas.
Netanyahu telah mengabaikan peringatan bahwa menyerang Kota Gaza akan menjadi bencana besar bagi warga Palestina yang berjuang melawan kelaparan, dan berbahaya bagi sekitar 20 sandera warga Israel yang diperkirakan masih hidup.
Tidak ada keputusan yang disepakati saat kampanye Kota Gaza pada rapat kabinet hari Selasa, lapor surat kabar Israel, Haaretz, di tengah kemarahan global yang memuncak atas serangan terhadap sebuah rumah sakit yang menewaskan 20 orang, termasuk lima jurnalis.
Kementerian Luar Negeri Qatar mendesak Israel untuk menanggapi kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera untuk Gaza, yang telah diterima oleh Hamas dan mencerminkan tuntutan Israel sebelumnya.
"Upaya untuk mengulur waktu dengan memindahkan lokasi atau taktik lain sudah jelas bagi komunitas internasional, dan sudah saatnya bagi Israel untuk memberikan jawaban serius atas apa yang telah disepakati sebelumnya," kata juru bicara kementerian, Majed al-Ansari.
Hentikan Perang
Mayoritas warga Israel mendukung diakhirinya perang sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata untuk membebaskan semua sandera yang tersisa.
Sebagian besar protes melibatkan beberapa demonstran yang menyerukan diakhirinya kelaparan dan pembantaian warga Palestina, tetapi mereka biasanya merupakan minoritas kecil.
Para kritikus, termasuk kerabat para sandera di Gaza, mengatakan Netanyahu memperpanjang perang untuk memperpanjang karier politik pribadinya.
"Kita bisa saja mengakhiri perang setahun yang lalu dan memulangkan semua sandera dan tentara. Kita bisa saja menyelamatkan sandera dan tentara, tetapi perdana menteri memilih, berulang kali, untuk mengorbankan warga sipil demi pemerintahannya," kata Einav Zangauker, yang putranya yang berusia 25 tahun, Matan, masih berada di Gaza.
Netanyahu mengatakan, kekuatan militer adalah cara terbaik untuk melindungi keamanan Israel dan menekan Hamas untuk membebaskan para sandera yang tersisa.
Beberapa pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak memiliki harapan sedikit pun bahwa Netanyahu akan mengubah arah, tetapi ingin menentang kebijakannya, termasuk Ada Gorni, 88 tahun, yang berunjuk rasa bersama putrinya, Carmen, yang membawa spanduk bertuliskan ‘Cukup’ dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani.
"Kami hanya ingin menghentikan perang, memulangkan para sandera, dan menghentikan kelaparan di Gaza," kata Carmen, 58 tahun.
"Saya rasa kami harus mengatakannya dengan lantang, tetapi saya rasa mereka tidak mendengarkan kami," tambahnya.