Liputan6.com, Jakarta Memasuki usia 30-an, banyak orang mulai menyadari perubahan bentuk tubuh yang tidak lagi sama seperti saat masih 20-an. Salah satu yang paling sering dikeluhkan adalah perut yang semakin membuncit, meskipun pola makan dan aktivitas terasa tidak jauh berbeda.
Fenomena ini bukan sekadar masalah estetika, dokter Maya Surdjaja, M.Gizi SpGK dari Perhimpunan Dokter Antipenuaan, Wellness, Estetik dan Regeneratif Indonesia (PERDAWERI) mengatakan hal ini berkaitan erat dengan perubahan fisiologis tubuh.
Advertisement
"Jadi, 10 tahun lagi (dari usia 35-an), ditambah 10 tahun lagi makin berasa tuh (lemak perut bertambah)," kata Maya ditemui di Jakarta pada Minggu, 24 Agustus 2025.
Maya mengatakan paling tidak ada dua faktor yang menyebabkan saat usia sudah masuk 30-an lemak perut menumpuk lebih mudah meski makan dan aktivitas tak jauh berbeda dibandingkan saat 20-an.
1. Massa Otot Menurun
Saat seseorang memasuki usia 30-an, massa otot akan menyusut. "Kalau massa otot turun maka pembakaran energi jadi lebih sedikit," kata Maya.
Hal ini menyebabkan lemak salah satunya menumpuk di area perut.
2. Metabolisme Tubuh Melambat
"Saat sudah masuk 30 tahun metabolisme melambat karena hormon enggak sekeren dulu lagi," tutur dokter yang sehari-hari praktik di RS.
Semakin bertambah usia, tutur Maya, pada wanita terjadi penurunan hormon estrogen, progesteron dan testosteron sementara kortisol naik. Hal itu menyebabkan mudah jadi lebih mudah menumpuk.
Pada Wanita, Apakah Efek Hamil dan Melahirkan?
Ada banyak perempuan yang menyebut penumpukan lemak di perut gegara hamil dan melahirkan. Terkait itu, Maya mengatakan tidak benar.
"Enggak ya. Perempuan yang tidak hamil dan melahirkan ketika sudah bertambah umur ya gemuk di area perut," tuturnya.
Kabar baiknya, Maya mengatakan bahwa lemak perut alias visceral fat itu mudah untuk 'dihancurkan'.
"Lemak visceral fat ini enggak sebandel yang lain ya seperti lemak subkutan. Kalau lemak subkutan itu lebih sulit," kata Maya.
Lemak subkutan adalah lemak yang berada tepat di bawah lapisan kulit. Bila dalam jumlah normal bermanfaat untuk tubuh. Namun, kalau sudah berlebihan akan meningkatkan masalah kesehatan seperti kardiovaskular hingga diabetes tipe 2.
Tips
Untuk mengatasi lemak perut alias visceral fat, Maya menyarankan untuk melakukan intermittent fasting.
Intermittent fasting (diet puasa) adalah metode untuk mengatur pola makan dengan cara berpuasa makan selama beberapa waktu. Kita bisa mengatur sendiri jadwal puasa dan durasi waktu makan, tanpa harus terlalu ketat untuk urusan jenis makanan yang boleh dan tidak boleh disantap.
Saat seseorang mengatur jam maka maka asupan kalori yang masuk ke tubuh semakin berkurang. Sehingga tubuh bisa membakar cadangan lemak menjadi energi.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk menjaga pola makan dengan menerapkan makanan gizi seimbang. Olahraga teratur sesuai rekomendasi WHO yakni 150 menit per minggu. Serta tidur cukup dan mengendalikan stres.