Liputan6.com, Jakarta Bank Jakarta mengantongi tiga penghargaan sekaligus dalam lomba Digitalisasi Pasar yang dihelat secara kolaboratif antara Pemprov DKI Jakarta, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia (BI).
Ajang ini turut diikuti mitra Perbankan dan mitra Bank Literasi Keuangan lainnya seperti BCA, Bank Mandiri, BRI dan BNI. Adapun lomba ini untuk mendorong pasar tradisional beralih ke sistem pembayaran digital demi menciptakan transaksi yang lebih cepat, aman dan transparan.
Advertisement
Dari 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, sebanyak 20 pasar tradisional dijadikan lokasi percontohan. Pasar-pasar tersebut dipilih secara acak dengan mempertimbangkan klasifikasi (kelas A, B, dan C) serta jumlah tempat usaha yang aktif. Mereka bersaing dalam beberapa kategori, yakni Program Literasi Teraktif, Digitalisasi Keuangan Terbaik, dan Akses Keuangan Termasif.
Pada ajang ini, Bank Jakarta memperoleh tiga kategori penghargaan sekaligus, di antaranya sebagai Mitra Perbankan Terbaik Kategori Pasar B (Pasar Koja) dan Pasar A (Pasar Mayestik), serta sebagai Mitra Bank Literasi Keuangan Terbaik Kedua.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung kepada Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo. Pramono mengatakan, proses literasi terkait digitalisasi penting untuk dilombakan guna mendorong perbankan ikut serta mengamati pasar.
“Karena saya berpikirnya sederhana begini, digitalisasi tidak bisa dihindarkan. Tetapi, kalau proses literasinya tidak dilombakan, para perbankannya tidak diadu, pasarnya tidak diamati, pasti tidak akan terjadi lompatan, lonjakan,” kata Pramono dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (22/8/2025).
“Maka ketika pada pembukaan Lomba Digitalisasi Pasar, saya tidak membayangkan bahwa kenaikannya bisa sangat signifikan. Pemakaian QRIS, termasuk transaksinya, ini menunjukkan apa yang kita lakukan bersama ini, menunjukkan kemajuan yang luar biasa,” sambungnya.
Pramono menyampaikan, Jakarta memberikan kontribusi 16,61 persen terhadap GDP nasional dengan pertumbuhan 5,18 persen. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen yang artinya Jakarta tumbuh lebih baik.
Menurutnya, salah satu faktor pendorongnya adalah digitalisasi. Dengan digitalisasi, copet disebut berkurang, premanisme pun menyusut, dan pasar Tanah Abang sebagai sentra pasar ASEAN bisa kembali hidup.
“Karena itu saya mengapresiasi perbankan, BI, OJK, serta Pasar Jaya yang sudah berkolaborasi. Hasilnya luar biasa, penggunaan QRIS di 20 pasar meningkat hampir 47 persen, NPWP pedagang juga naik signifikan, dan transaksi e-commerce melonjak lebih dari 40 persen,” jelas Pramono.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Bank Jakarta, Agus H Widodo menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada Bank Jakarta. Dia menyebut bahwa Bank Jakarta menjadikan Lomba Digitalisasi Pasar ini sebagai ajang untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan.
“Kami memandang digitalisasi pasar tradisional sebagai bagian dari transformasi ekosistem keuangan Jakarta. Upaya ini tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi melalui QRIS dan EDC, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi para pelaku UMKM untuk masuk dalam sistem keuangan formal. Bank Jakarta berkomitmen menjadikan digitalisasi sebagai fondasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan,” kata Agus.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menyampaikan Bank Jakarta akan terus berupaya meningkatkan kolaborasi dengan Pasar Jaya serta mendorong digitalisasi pasar ke depannya. Arie menilai, ajang ini menjadi momentum bagi Bank Jakarta untuk mendorong digitalisasi pasar-pasar di seluruh Jakarta.
“Kami meyakini digitalisasi pasar akan berdampak positif terhadap pemberdayaan UMKM dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ucapnya.