Jurus Pulau Derawan Perangi Sampah yang Volumenya Capai 46 Ribu Kg per Hari

Pariwisata telah mendorong ekonomi lokal di Pulau Derawan, sekaligus menghadirkan tantangan lingkungan, khususnya sampah.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 15 Agustus 2025, 07:00 WIB
Aksi Bersih Pantai yang dilakukan Komunitas Anak Pulau Derawan. (dok. WWF Indonesia)

Liputan6.com, Jakarta - Masalah sampah tidak mengecualikan Pulau Derawan, salah satu destinasi bahari ternama dari Kalimantan Timur. Perkembangan pariwisata sejak 2010, yang telah berdampak positif terhadap ekonomi lokal, juga datang bersama tantangan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.

Kepala Kampung Derawan, Indra Mahardika, dalam rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Kamis, 14 Agustus 2025, mengatakan, "Sampah plastik sudah jadi perhatian serius bagi masyarakat maupun pemerintah Kampung Derawan."

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau, jumlah kunjungan wisatawan ke Kecamatan Pulau Derawan, baik mancanagera maupun domestik, tercatat 34.160 orang pada 2024. Sepanjang tahun 2023, sekitar 80 bangunan non-rumah tangga, termasuk penginapan dan rumah makan, aktif melayani wisatawan dan masyarakat setempat.

Meski berperan penting dalam mendukung aktivitas pariwisata, bangunan-bangunan ini juga jadi salah satu sumber utama timbulan sampah. Rata-rata total sampah non-rumah tangga yang dihasilkan mencapai 46.105,1 kilogram per hari—angka yang mencengangkan untuk pulau kecil dengan luas hanya 44,6 hektare.

Pulau Derawan memiliki luas 44 hektar merupakan rumah bagi penyu bertelur. (foto: Abdul Jalil)

Ancaman Serius

Lokasi Pembangunan TPS3R Derawan. (dok. WWF Indonesia)

Tanpa pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, Derawan, yang merupakan kawasan konservasi di perairan, berisiko kehilangan daya tarik dan keseimbangan ekologisnya. Polusi plastik dapat memengaruhi kesehatan ekosistem dan spesies laut, terutama penyu yang jadi ikon Derawan dan Kabupaten Berau.

Ketiadaan fasilitas pengelolaan sampah terpadu di Pulau Derawan telah menyebabkan sebagian besar limbah rumah tangga dan pariwisata tidak tertangani dengan baik. Sampah kerap dibakar, dikubur, bahkan dibuang langsung ke laut.

Praktik ini tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga mengancam kelestarian ekosistem laut yang jadi tulang punggung dan daya tarik wisata bahari di kawasan ini. Indra menyebut, sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini masih sangat terbatas.

"Kami memang sangat membutuhkan pengelolaan yang lebih baik. Sampah yang ada belum melalui proses pemilahan, melainkan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir," ungkapnya.

Master Plan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

Diskusi bersama Pemerintah Kampung Pulau Derawan dan operator kebersihan untuk rencana pembangunan TPS3R Derawan. (dok. WWF Indonesia)

Sejak Juni 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Berau didukung Yayasan WWF Indonesia bersama konsultan pembangunan telah melakukan survei dan penyusunan Master Plan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Pulau Derawan. Ini termasuk membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi sebagai salah satu prioritas utama.

Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah berbasis Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Kampung Pulau Derawan merupakan bagian penting dari implementasi master plan tersebut. TPS3R disebut tidak hanya jadi solusi teknis, namun juga simbol komitmen untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian lingkungan.

Proses pembangunan TPS3R di Kampung Derawan dimulai dengan pembelian sebidang tanah seluas 20 x 20 meter persegi. Tahapan legalitas pun dilalui secara bertahap, mulai dari pengurusan surat pelepasan tanah pada Pemerintah Kampung Derawan hingga akhirnya terbit dokumen Sertifikat Hak Pakai (SHP). Koordinasi intensif juga telah dilakukan dengan berbagai dinas terkait. 

Kapan Mulai Dibangun?

Aerial Pulau Derawan. (dok. WWF Indonesia)

TPS3R Derawan rencananya akan mulai dibangun saat acara groundbreaking pada awal September 2025. Selanjutnya, alat penunjang dalam pengelolaan sampah akan diserahkan untuk mendukung operasional harian.

Kemudian, pelatihan pemilahan dan pengolahan sampah juga akan diberikan pada para pemimpin lokal dan masyarakat. Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Imam Musthofa Zainudin, berkata, "Melalui pembangunan TPS3R, harapannya masyarakat Derawan dapat lebih terbantu dan semakin aktif terlibat."

"Tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tapi juga dalam memilah dan mengelola sampah sebagai sumber daya yang bernilai. Partisipasi ini akan memperkuat rasa kepemilikan terhadap fasilitas dan menciptakan peluang usaha lokal berbasis ekonomi sirkular."

WWF Indonesia telah mendampingi upaya keberlanjutan di Kampung Pulau Derawan, salah satunya memperkuat pengelolaan sampah plastik. Dukungan pihaknya mencakup pendampingan komunitas dalam mendorong perubahan perilaku terhadap konsumsi plastik sekali pakai, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta penguatan inisiatif ekonomi lokal yang mendukung praktik berkelanjutan.

Infografis Jenis-Jenis Plastik yang Berpotensi Jadi Sampah. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya