Liputan6.com, Jakarta - 80 tahun lalu pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Lambert Giebels, penulis biografi Bung Karno menyebut proklamasi RI sebagai salah satu paling sederhana pernah ada di dunia. Liputan6.com menurunkan serial tulisan tentang peristiwa unik dan menarik sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI. Tulisan tersebut kami kumpulkan dalam TAG Mozaik Proklamasi. Selamat menikmati
Selama ini diketahui naskah otentik Proklamasi Kemerdekaan RI ada dua lembar. Pertama adalah tulisan tangan Soekarno dengan isi yang didiktekan oleh Muhammad Hatta. Kedua naskah yang diketik oleh Sayuti Melik, sekretaris pribadi Soekarno.
Penyusunan naskah Proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Maeda, seorang perwira tinggi Jepang di Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta. Meskipun dibahas di rumah petinggi militer Jepang, saat penyusunan naskah, tidak ada seorang Jepang pun yang turut hadir. Laksamana Maeda hanya menyediakan tempat.
Advertisement
Dalam pembukaan rapat, Soekarno juga mengatakan kalau itu bukan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melainkan rapat wakil-wakil rakyat Indonesia.
Menurut Sayuti Melik dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik disusun oleh Arief Priyadi terbitan Yayasan Proklamasi Centre for Strategic and International Studies 1986, hanya ada tiga orang yang menyusun konsep naskah Proklamasi. Mereka adalah Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo.
Namun dalam ruangan itu ada dua orang lain yaitu Sukarni dan Sayuti Melik.
"Kami berdua hanya menganggukkan kepala saja kalau ditanya," kata Sayuti Melik tentang perannya di ruang itu bersama Sukarni.
Dalam penyusunan naskah, Hatta dan Soebardjo lebih banyak bicara, sedangkan Soekarno yang menulisnya. Setelah selesai, konsep tulisan tadi dibacakan kepada wakil bangsa Indonesia yang hadir.
Dalam proses itu, Wakil Pemuda Chaerul Saleh menolak jika naskah ditandatangani oleh anggota PPKI yang lain. Chaerul menyebut mereka sebagai orang-orang Jepang. Lobi kemudian dilakukan hingga sampai pada kesimpulan naskah akan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Setelah semua pihak menerima, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskah.
"Ti, ti, tik..tik!" demikian perintah Soekarno ketika itu.
Naskah dari Soekarno itu lantas diketik oleh Sayuti Melik di ruangan lain. Ada perubahan sedikit mengenai ejaan "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama Bangsa Indonesia". Sayuti Melik juga mengaku menambahkan nama Soekarno-Hatta.
"Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno," kata Sayuti.
Naskah Tulisan Bung Karno Sempat Dikira Hilang
Setelah mengetik, konsep tulisan tangan Soekarno ditinggalkan begitu saja di atas meja. Lalu naskah yang diketik dibacakan dan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Menurut Sayuti, dia tidak mengetik rangkap sehingga hanya ada satu salinan naskah ketikan Proklamasi.
Tentu jadi pertanyaan, dimana naskah otentik tulisan tangan itu berada setelah diletakkan Sayuti Melik begitu saja di atas meja?
Ternyata naskah itu diamankan oleh Burhanuddin Muhammad Diah, seorang wartawan muda yang ketika itu berusia 28 tahun. BM Diah dikenal sebagai pendiri koran Merdeka dan Asia Raya. Dia juga termasuk pendiri koran Pedoman.
"Saya yang sejak semula bernaluri wartawan walaupun di tempat itu duduk sebagai wakil pemuda, ikut serta bersama Sayuti Melik ke kamar sebelah. Setelah selesai mengetik, kertas proklamasi asli yang hanya diletakkan saja di atas meja sewaktu Sayuti Melik menyerahkan teks yang diketik kepada Bung Karno saya simpan dalam saku. Saya tidak menyangka bahwa kertas tersebut menjadi dokumen penting di kemudian hari," tulis BM Diah dalam otobiografisnya berjudul Butir Butir Padi BM Diah (Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman) terbitan Pustaka Merdeka, 1992.
Dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik, pengetik naskah Proklamasi itu mengira naskah tulisan tangan Soekarno sudah hilang karena tidak lagi ditemukan di meja.
"Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah. Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi. Mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan," tutur Sayuti Melik.