Utang Intiland Sisa Rp 4,38 Triliun, Strategi Deleveraging Jadi Pilihan

Emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatat jumlah utang sebesar Rp 4,38 per Juni 2025.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 11 Agustus 2025, 06:00 WIB
IHSG menguat 24,13 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 7.196,75. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatat jumlah utang sebesar Rp 4,38 per Juni 2025. Angka ini berhasil turun 14 persen dalam tiga tahun terakhir.

DILD mencatatkan, angka tersebut turun sebesar Rp 687 miliar dari posisi Rp 5,06 triliun pada Desember 2022 lalu. Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono mengatakan strategi deleveraging menjadi salah satu faktornya.

“Turunnya jumlah utang ini mencerminkan keberhasilan upaya kami dalam mengelola kewajiban keuangan secara berkelanjutan dan memperbaiki struktur finansial perusahaan,” kata Archied, mengutip keterangan resmi, Senin (11/8/2025).

Perseroan juga mencatat beban bunga juga turun signifikan, yakni mencapai sekitar 16,7 persen dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 beban bunga pinjaman Perseroan mencapai Rp 518,1 miliar dan tahun 2023 turun menjadi Rp 489,9 miliar. Penurunan tersebut berlanjut pada 2024 dengan jumlah beban bunga sebesar Rp 431,8 miliar. Pada 30 Juni 2025, beban bunga Perseroan tercatat sebesar Rp 176,3 miliar.

Archied menyebut struktur biaya yang efisien dan peningkatan kinerja penjualan, khususnya dari segmen kawasan industri, menjadi faktor penting dalam memperbaiki kinerja keuangan secara keseluruhan dan menjaga rasio-rasio keuangan tetap sehat.

“Selain mendorong kinerja penjualan, fokus penting kami saat ini adalah menjalankan strategi deleveraging secara disiplin, mulai dari pelunasan, pengurangan, refinancing pinjaman berbunga tinggi, hingga divestasi aset non-core. Langkah ini akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan beban bunga dan penguatan struktur permodalan,” tuturnya

 

Perbaikan Rasio Kinerja

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Penurunan jumlah utang juga menyebabkan posisi rasio-rasio keuangan Perseroan semakin membaik. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) terus membaik. Pada 2022 rasio utang terhadap ekuitas Perseroan masih mencapai 61,1 persen.

Angka itu berangsur turun menjadi 58,5 persen pada 2023, dan 50,3 persen pada 2024. Pada semester-I 2025, rasio utang terhadap ekuitas Perseroan kembali menurun menjadi 47 persen.

“Struktur keuangan yang lebih sehat akan meningkatkan nilai tambah Perusahaan dan meningkatkan daya saing dalam industri properti nasional,” kata Archied.

 

Laba Naik

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Intiland mencatat, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (Earning before interest, taxes, depreciation, and amortization/EBITDA) juga membaik dari 22 persen menjadi 28 persen. Angka ini dicatatkan per Semester I 2025.

“Kami akan selalu menjaga kepercayaan investor dan memastikan struktur keuangan perusahaan tetap solid dan adaptif terhadap perubahan pasar,” ujar Archied.

Dia menegaskan, pencapaian ini mencerminkan komitmen Intiland dalam menjaga reputasi sebagai emiten yang bertanggung jawab serta menunjukkan kondisi likuiditas yang kuat. Menciptakan struktur keuangan yang sehat dan kuat menjadi bagian dari tanggung jawab penting Perseroan dalam menjalankan tata kelola keuangan yang sehat dan berorientasi jangka panjang

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya