Pasar Barito di Persimpangan: Suara Pedagang yang Menolak Dilupakan

Relokasi ini bukan hanya soal pindah tempat. Bagi para pedagang, ada sejarah panjang yang ikut dipertaruhkan karena Pasar Barito menjadi saksi perjalanan hidup keluarga mereka.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 08 Agustus 2025, 17:02 WIB
Sejumlah kios-kios pakan burung di Pasar Barito, Jakarta Selatan (Jaksel) (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah kios-kios pakan burung di Pasar Barito, Jakarta Selatan (Jaksel) terlihat tertutup spanduk besar bertuliskan ‘Jakarta’ menyusul relokasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Hanya beberapa pedagang yang nampak masih membuka kiosnya untuk berjualan.

Sementara itu, persis di depan Taman Langsat yang bersebelahan dengan Pasar Barito tengah berlangsung unjuk rasa oleh para pedagang. Mereka membawa spanduk yang isinya menolak proses relokasi. Salah satunya ada Trian (39), pedagang yang secara turun-temurun sejak 1979 menggantungkan hidup di Pasar ikonik tersebut.

“Bapak saya dulu jualan masih pakai gerobak,” kenangnya, matanya menerawang. Dari sinilah kami bisa sekolah, kuliah, sampai makan sehari-hari. Makanya kalau dipindah, rasanya sedih. Ini perjuangan almarhum Bapak,” kata Trian kepada Liputan6.com di lokasi, Jumat (8/8/2025).

Trian menyebut, bayang-bayang relokasi datang mengejutkan, tepatnya hanya dua tahun setelah kios mereka direnovasi. Terlebih, pilihan relokasi yang ditawarkan Pemprov DKI Jakarta tersebut dinilai tak disiapkan dengan baik bagi pedagang.

“Dikirain tidak bakal direlokasi lagi. Eh, malah dapat pilihan tempat yang kurang memadai,” ujar Trian.

Trian bilang, dari berbagai opsi yang diberikan Pemprov DKI Jakarta, setidaknya ada tiga opsi yang telah dia sambangi, yaitu Cidodol, PD Pasar Mampang, hingga Lenteng Agung.

“Cuma kalau yang di Cidodol kan dia kan rawan banjir. Sedangkan kita kan jualannya makanan burung, makanan kucing. Kalau bisa banjir kan kita juga bingung gitu,” ucap Trian.

Selain itu, lanjut Trian, PD Pasar Mampang pun tak ideal karena lokasinya di lantai tiga, tanpa fasilitas toko siap pakai, sementara banyak pedagang sudah berusia lanjut.

Lenteng Agung menjadi satu-satunya pilihan relokasi yang masuk akal bagi Trian. Hanya saja tempat itu tak sesuai harapan pedagang.

“Cuma waktu kami ke sana, masih tanah kosong, rumputnya rimbun. Kami sih enggak nolak direlokasi, asal tempatnya sudah siap,” tuturnya.

 

Menjaga Warisan di Tengah Bayang Relokasi

Suasana pedagang saat menunggu pembeli di pasar hewan Barito, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (25/10/2022) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Trian bercerita bahwa relokasi ini bukan hanya soal pindah tempat. Bagi pedagang sepertinya, ada sejarah panjang yang ikut dipertaruhkan karena Pasar Barito menjadi saksi perjalanan hidup keluarganya.

Sejak ayahnya yang masih bujang, menikah, dan membesarkan anak-anak, hingga kini usaha di Pasar Barito itu masih dibesarkan dan diteruskan olehnya dan keluarga. Bahkan, saat rumah mereka di Kampung Dukuh tergusur, ia tetap datang ke Barito untuk berdagang, meski kini harus pulang pergi dari Citayam.

Trian mengaku, roda perdagangan di Pasar Barito cukup berputar. Pasar masih ramai oleh pembeli yang datang mencari burung, kucing, hingga kelinci. Kendati pendapatannya tak pasti, penghasilan dari berjualan di Barito cukup bagi keluarga kecil Trian.

“Sehari bisa dapat sekitar Rp500 ribu. Tidak pasti, tapi selalu ada pemasukan,” ucapnya.

Trian masih menagih kejelasan nasibnya yang belum juga datang. Ia dan pedagang lainnya masih menunggu surat keputusan resmi dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

“Makanya kami mau ketemu Gubernur langsung. Biar jelas, kami harus bagaimana,” katanya.

Relokasi mungkin tak terelakkan. Tapi bagi para pedagang yang membangun hidupnya di sini, Pasar Barito bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah rumah kedua, tempat kenangan, dan perjuangan untuk terus bertahan hidup.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya