Erick Thohir: Fokus Timnas Indonesia Bukan Berarti Abaikan Klub

Erick Thohir menegaskan PSSI tetap membangun ekosistem sepak bola menyeluruh, meski timnas jadi prioritas. Klub dan liga tetap peran kunci.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 06 Agustus 2025, 15:43 WIB
Ketua umum PSSI, Erick Thohir ketika nonton bareng laga Grup D Piala Asia 2023 antara Timnas Indonesia melawan Irak di Senayan Avenue, Senayan, Jakarta, Senin (15/01/2024) malam WIB. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa prioritas federasi pada tim nasional bukan berarti mengesampingkan peran klub dan liga dalam membangun sepak bola nasional.

Penegasan ini disampaikan dalam pernyataan terbarunya yang menanggapi beragam persepsi publik soal arah kebijakan federasi.

“Main focus kita tim nasional. Tapi bukan berarti kita tidak membangun supporting system buat sepak bola nasional,” ujar Erick dalam keterangan resmi.

Pernyataan ini menegaskan bahwa PSSI tidak bekerja secara sektoral, melainkan membangun ekosistem menyeluruh. Dalam ekosistem tersebut, timnas memang menjadi wajah utama, namun klub, liga, sekolah sepak bola (SSB), serta kompetisi akar rumput tetap menjadi fondasi utama yang terus diperkuat.


Timnas sebagai Etalase, Klub sebagai Tulang Punggung

Suporter membentangkan bendera Merah Putih raksasajelang menyaksikan laga Timnas Indonesia U-19 melawan Jepang U-19 pada perempat final Piala AFC U-19 2018 di Stadion GBK, Jakarta, Minggu (28/10). Indonesia kalah 0-2. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dalam kerangka kebijakan PSSI saat ini, tim nasional memang menjadi tolok ukur pencapaian. Namun, Erick menyadari sepenuhnya bahwa performa timnas sangat bergantung pada kualitas pembinaan dan kompetisi di tingkat klub.

“Kita dengan liga jalan seiring. Klub dan liga adalah bagian penting dari ekosistem,” ujarnya.

Dengan kata lain, keberhasilan timnas tidak mungkin dicapai tanpa kontribusi klub-klub yang terus mengembangkan pemain dari level dasar.

Karena itu, PSSI memastikan tetap berkoordinasi dengan operator liga dan klub dalam menyusun kalender, pemanggilan pemain, dan penyelarasan strategi teknis.


NDRC dan Perhatian pada Hubungan Klub-Pemain

Timnas Indonesia merayakan gol yang dicetak Ole Romeny ke gawang China dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Kamis (5/6/2025). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Salah satu bentuk nyata kepedulian PSSI terhadap klub adalah dengan menginisiasi dan mendorong penguatan National Dispute Resolution Chamber (NDRC). Lembaga ini dibentuk sebagai wadah penyelesaian sengketa profesional antara pemain dan klub, serta antar klub.

“Bukan berarti kita tidak peduli dengan klub atau pemain. Justru kita mendorong keseimbangan lewat NDRC ini. Ini komitmen membangun ekosistem,” kata Erick.

NDRC Indonesia merupakan satu dari hanya lima NDRC di dunia yang diakui langsung oleh FIFA. Keberadaannya diharapkan menjadi sistem check and balance dalam relasi profesional di dunia sepak bola nasional, sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian.


Ekosistem yang Terhubung: SSB, Liga, hingga Timnas

Pemain Timnas Indonesia U-17, Nazriel Alfaro, saat menghadapi Korea Selatan pada laga pertama Grup C Piala Asia U-17 2025. (Dok. Timnas Indonesia)

Dalam penjelasannya, Erick juga menyampaikan bahwa pembinaan sepak bola tidak bisa dipisah-pisahkan. SSB, kompetisi usia muda seperti Piala Soeratin dan Piala Pertiwi, hingga Liga 1 dan tim nasional adalah mata rantai yang saling terhubung.

“Grass root juga supply pemain ke liga dan timnas. Namun, grass root itu bukan bagian dari liga, karena itu jalurnya lewat SSB dan pembinaan usia dini,” jelasnya.

PSSI saat ini, menurut Erick, sedang mengupayakan agar seluruh jalur pembinaan tersebut memiliki jalur kompetisi dan struktur yang jelas, termasuk menjajaki kerja sama dengan sektor swasta untuk menyelenggarakan turnamen-turnamen pembinaan.


Keseimbangan Melalui Kolaborasi

Erick menegaskan bahwa dalam membangun sepak bola nasional, tidak ada dikotomi antara timnas dan klub. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Dan keseimbangan itu hanya bisa dicapai jika semua pihak berjalan seirama.

“Saya bukan berarti mengontrol ekosistem pemain, bukan begitu. Mereka bagian dari ekosistem yang mau kita bangun. Tinggal kita pikirkan apa yang mau kita perjuangkan bersama,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus merespons anggapan bahwa PSSI terlalu memusatkan perhatian pada timnas dan mengabaikan dinamika yang terjadi di level klub dan liga.

 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya