NDRC Indonesia Dapat Pengakuan FIFA, Erick Thohir: Jadi Sarana Kontrol Ekosistem Sepak Bola

Ketua Umum PSSI Erick Thohir memperkenalkan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) Indonesia lewat konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (6/8/2025).

oleh Theresia Melinda IndrasariDiterbitkan 06 Agustus 2025, 16:00 WIB
PSSI  menggelar konferensi pers untuk mensosialisasikan fungsi NDRC Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (6/8/2025). NDRC merupakan lembaga arbitrase yang bertugas menyelesaikan sengketa pemain dengan klub, pelatih dengan klub, atau klub dengan klub, dan sudah mendapat pengakuan resmi dari FIFA. (Liputan6.con/Melinda Indrasari)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum PSSI Erick Thohir memperkenalkan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) Indonesia lewat konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (6/8/2025).

Lembaga arbitrase, yang bertugas menyelesaikan sengketa klub, pelatih, dan pemain itu dianggap sebagai salah salah satu pilar penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sepak bola tanah air.

Sebagai informasi, NDRC sebenarnya bukan lembaga baru di Indonesia. Badan ini sudah berdiri sejak 2019 dan telah mendapat seritfikasi resmi dari FIFA pada Januari 2025.

NDRC Indonesia merupakan satu dari 5 lembaga arbitrase di dunia yang diakui oleh FIFA. Bahkan di Asia, NDRC merupakan satu-satunya.

Erick Thohir selaku Ketua Umum PSSI pun menegaskan keberadaan NDRC merupakan bagian dari upaya federasi melakukan check and balance terhadap problem sepak bola antara pemain dengan klub maupun klub dan klub.

"Kita mendorong keseimbangan ekosistem yang kita bentuk, termasuk (lewat) NDRC ini. NDRC sebagai check and balance ketika ada isu soal pemain dengan klub, klub dan klub, juga lain-lainnya," papar Erick Thohir kepada awak media di Senayan, Rabu (6/8/2025) siang WIB.

"Itu kenapa kami mendorong NDRC. Ini baru 5 di dunia (yang diakui FIFA). Kita patut bangga. Ini komitmen membangun ekosistem, dan putusan NDRC ini wajib diikuti," tambahnya.


Selesaikan Sengketa Gaji

Hingga kini, NDRC telah menangani sekitar 200 sengketa pemain, dengan seluruhnya terkait penundaan pembayaran gaji. (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Hingga saat ini, NDRC Indonesia disebut telah menangani sekitar 200 kasus. Hampir seluruhnya merupakan sengketa penundaan pembayaran gaji atau kompensasi terkait kontrak yang belum terpenuhi.

"Sebenarnya ada tiga tipe sengketa yang bisa kami selesaikan, yaitu tunggakan gaji, training compensation, dan solidarity mechanism," ujar Ketua NDRC Togi Pangaribuan dalam jumpa pers, Rabu (6/8/2025).

"Dari tiga sifat sengketa itu, hampir 100 persen berhubungan dengan tunggakan gaji, walau tidak sepenuhnya gaji, ada yang kompensasi-kompensasi dari kontrak. Jadi dari 200 putusan tersebut, seluruhnya soal tunggakan gaji," papar dia.


Tahapan Pelaporan ke NDRC

Terkait durasi penanganan sengketa oleh NDRC, Togi menjelaskan proses rata-rata memakan waktu tiga hingga enam bulan.

Tahapannya diawali dengan pengaduan melalui e-mail NDRC Indonesia dengan melampirkan seluruh bukti untuk kemudian diproses tanpa memungut biaya

"Sederhananya, pemain atau kuasanya, atau pelatih, atau klub bisa mengajukan permohonan ke NDRC melalui e-mail dengan melampirkan bukti. Semua proses document based dan online. Karena tujuannya memberi perlindungan dan kepastian hukum, semua proses di NDRC itu gratis," tutur Togi.

"Setelah permohonan itu dimasukkan, akan diminta tanggapan dari pihak pemohon. Lalu ada sidang NDRC, kemudian dikeluarkan putusannya. Jadi itu sederhananya."

"Kurang lebih proses (penyelesaian sengketa) 3-6 bulan, itu yang sedang kami usahakan untuk dipercepat supaya ekosistem sepak bolanya sehat. Biasanya masalah muncul ketika liga hampir berakhir, jadi kami berupaya mempercepat penyelesaian sebelu musim baru bergulir," pungkas Togi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya