Sinyal Tak Selalu Ada di Fakfak, Dokter Amira Kerap Tahan Rindu pada Keluarga

Ketimpangan pembangunan dirasakan satu-satunya dokter obstetri dan ginekologi di Fakfak Papua Barat, Amira. Kala bertugas ke daerah terpencil di area Fakfak, Amira kerap kesulitan untuk bisa menghubungi keluarga.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 06 Agustus 2025, 15:36 WIB
Dokter Amira (tengah) mengabdi di Fakfak Papua Barat. Ia adalah satu-satunay dokter obstetri dan ginekologi di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. (Dok Instagram amira.abdat19)

Liputan6.com, Jakarta Lulus sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi pada 2020 dari Universitas Airlangga, Amira Ali Abdat memilih jalan dengan mengabdikan diri untuk memberikan pelayanan kesehatan perempuan di Fakfak, Papua Barat.

Tantangan yang ia hadapi selama di sana tidak mudah. Bukan cuma akses jalan dan fasilitas kesehatan yang terbatas, Amira juga harus menghadapi tantangan besar dalam akses komunikasi.

Padahal, sebagai dokter obstetri dan ginekologi satu-satunya di Fakfak ia harus masuk ke area pedalaman yang tidak ada sinyal telepon.

Nyatanya, Amira bukan cuma dokter ia juga adalah anak. Amira yang sudah 12 tahun tinggal jauh dari ayah dan ibu akan menelpon saat harus bertugas di pedalaman yang tak ada sinyal.

"Ketika saya mau berangkat bertugas ke tempat yang tidak ada sinyal, saya selalu menelepon mama saya dan saya mengatakan, "Ma, Mira pergi dulu mohon doanya'," cerita Amira dalam seminar nasional bertajuk “Menakar Kebutuhan dan Realitas: Seberapa Banyak Indonesia Membutuhkan Dokter yang Berkualitas?” pada 25 Juli 2025.

Sinyal telepon yang terbatas, membuat Amira kadang harus menahan rindu ke ayah dan ibunya. Bahkan sinyal Edge yang merupakan teknologi jaringan seluler generasi kedua sulit ia dapatkan.

Jika ada sinyal E, kadang harus terputus di tengah perbincangan karena sinyal hilang.

"Saya hanya telepon mama, saya bilang 'Ma, Mira baik-baik saja kok. Aman'. Baru saya mau menanyakan bagaimana kabar mama tapi telepon sudah mati karena sinyal putus," katanya.

 

Tak Ada Listrik, Dokter Amira Bawa USG Beserta Genset

Presentasi dr. Amira dalam seminar nasional “Menakar Kebutuhan dan Realitas: Seberapa Banyak Indonesia Membutuhkan Dokter yang Berkualitas?” yang diselenggarakan pada Jumat, 25 Juli 2025.

Selain akses komunikasi yang terbatas, tantangan lain yang dihadapi Amira melayani kesehatan perempuan di pedalaman Fakfak adalah listrik. Alhasil, ketika bertugas ke daerah terpencil ia mesti membawa USG portabel beserta genset dan bensin.

"Di balai desa kita sudah siapkan USG yang kita bawa bersama genset. karena untuk menyalakan USG di beberapa tempat tidak ada listrik," katanya.

Belum lagi, akses jalan yang sulit di beberapa wilayah Fakfak, membuat tenaga kesehatan dan medis deg-degan ketika menuju rumah warga.

"Tantangan dan meda yang seringkali membuat orang enggan untuk bertahan. Jalanan terja, bebatuan, jurang di kanak kiri, infrastruktur yang tidak merata," kata dokter Amira.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya