Suara Hati Pekerja Jakarta: Berangkat Pagi Pulang Malam, Uang Habis di Jalan

Pulang pergi Jakarta-Bekasi hampir 9 tahun dilakoni. Lelah pasti. Kadang Rina mengeluh rutinitas itu begitu menguras energi, emosi sekaligus ongkos.

oleh Winda NelfiraDiperbarui 05 Agustus 2025, 10:01 WIB
Penumpang berada di dalam rangkaian KRL di Stasiun KRL Commuter Line Sudirman, Jakarta, Jumat (30/12/2022). Sebelumnya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengatakan, hingga saat ini, kenaikan tarif Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) masih dalam pembahasan antara KCI dan pemerintah. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Sebelum matahari terbit, Rina (29) sudah keluar rumah. Rina adalah satu dari banyak pekerja yang menggantungkan hidup di Jakarta. Jarak rumah ke Jakarta cukup jauh membuat Rina harus siap-siap dan berangkat lebih pagi. Berjibaku di jalanan untuk sampai ke tempat kerja.

Pulang pergi Jakarta-Bekasi hampir 9 tahun dilakoni. Lelah pasti. Kadang Rina mengeluh rutinitas itu begitu menguras energi, emosi sekaligus ongkos.

“Selama hampir 9 tahun ini selalu PP kerja,” kata Rina kepada Liputan6.com, Selasa (5/8/2025).

Rina rutin melakukan perjalanan pulang-pergi (PP) dari rumah ke kantor di Jakarta Pusat. Transportasi umum menjadi andalan Rina berangkat ke kantor.

Akan tetapi, ada satu lagi yang menambah beban pikiran Rina. Ongkos transportasi begitu mencekik. Ini karena Rina mengakses lebih dari satu moda transportasi untuk sampai ke tempat kerja.

Rata-rata, ongkos harian yang dikeluarkan Rina berkisar antara Rp50.000 sampai Rp65.000. Dalam sebulan, total biaya transportasi Rina tembus Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Jumlah yang harus membuat Rina ekstra hemat.

“Biasanya saya hemat makan dan jajan. Jadi jarang main juga sama teman-teman. Enggak beli barang yang dirasa enggak perlu juga,” ucapnya.

Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Kementerian Kesehatan memprediksi penyebaran kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia akan terus terjadi hingga mencapai puncaknya pada Februari 2022. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Moda Transportasi dan Ongkos Rina Tiap Hari

Dari rumah ke Stasiun Bekasi, Rina menggunakan ojek online (Ojol) yang tarifnya Rp37.500. Kemudian, Rina akan naik Kereta Rel Listrik (KRL) menuju Stasiun Sudirman atau Kemayoran. Perjalanan belum usai, Rina masih harus naik Ojol lagi ke kantornya, merogoh kocek sekitar Rp12.000 hingga Rp14.000.

Belakangan ini, Rina beralih ke moda transportasi lain terdekat dari rumahnya, yaitu TransJakarta. Meski tarif TransJakarta lebih murah, tak jarang ia menyesuaikan rute dan moda transportasi yang dipilih untuk pulang-pergi kerja tergantung kondisi hari itu.

"Pulang-pergi (naik TransJakarta) cuma habis Rp21.000. Tapi kalau terlambat, saya tetap pilih naik KRL karena lebih cepat," katanya.

Meski demikian, Rina bersyukur masih bisa menyisihkan uang untuk ditabung, walau jumlahnya tak besar. Bagi Rina, sistem transportasi di Jabodetabek memang sudah berkembang, tapi belum cukup menjangkau semua lapisan masyarakat.

Keluhkan Minim Transportasi Terintegrasi

Dia menyoroti minimnya konektivitas transportasi menuju stasiun utama seperti KRL atau LRT (Light Rail Transit).

“Banyak orang tinggalnya jauh dari stasiun. Mereka harus naik ojek yang ongkosnya mahal. Kalau ada feeder atau shuttle resmi dengan tarif murah, pasti sangat membantu,” katanya.

Ia juga berharap layanan TransJakarta bisa diperluas ke lebih banyak titik di wilayah penyangga Jakarta. Mengingat, banyak pekerja dari wilayah penyangga sepertinya yang bekerja pulang-pergi ke Jakarta.

“Banyak sekali masyarakat yang sangat bergantung dengan transportasi umum biaya murah, khususnya pekerja yang berpenghasilan kecil,” tuturnya.

Meski begitu, Rina bilang tak pernah terbersit niat untuk pindah atau menetap di indekos yang notabene bakal lebih dekat ke kantor. Alasan Rina sederhana. Bukan hanya karena mahalnya biaya tinggal di Jakarta, tapi juga karena ingin tetap menemani ibunya di rumah.

“Menurut saya biaya indekos di Jakarta lebih mahal, termasuk makan, biaya listrik dan saya tinggal berdua sama mama. Jadi tetep harus menemani orang tua di rumah,” ujar Rina.

Penumpang menunggu rangkaian KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta, Sabtu (17/12/2022). Pemerintah berencana menaikkan harga tiket Commuter Line (KRL) pada 2023. Plt Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Risal Wasal mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah aturan terkait kenaikan tarif KRL. (Liputan6.com/Magang/Aida Nuralifa)

Rata-Rata Ongkos Perjalanan Pekerja

Biaya transportasi yang dikeluarkan warga di aglomerasi Jabodetabek cukup besar. Ternyata, biaya yang dikeluarkan warga Bekasi menjadi yang paling tinggi, mencapai Rp 1,91 juta per bulan.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi Multimoda Kementerian Perhubungan, Risal Wasal biaya mengatakan biaya yang dikeluarkan masing-masing orang berbeda-beda. Ada biaya tambahan lain selain transportasi publik yang menyumbang cukup besar.

"Orang ke kantor masih harus naik ojek, atau naik apa, menuju ke public transport-nya, dari public transport, kalau dia bawa mobil harus parkir, parkirnya mahal. Padahal naik keretanya cuma Rp 3.500. Kalau kayak gitu, itu yang kita perbaiki," ucap Risal usai diskusi media di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan biaya transportasi rata-rata di kota besar mencapai 12,46 persen dari biaya hidup. Warga Bekasi merogoh kocek paling tinggi, mencapai Rp 1.918.142 per bulan. Diikuti oleh Kota Depok dengan Rp 1.802.751 per bulan.

Lalu, Kota Jakarta dengan biaya Rp 1.590.544 per bulan. Serta, Kota Bogor dengan biaya transportasi Rp 1.235.613 per bulan. Selain Jabodebek ini, biaya transportasi Kota Surabaya juga cukup tinggi dengan Rp 1.629.219 per bulan.

Infografis Wajah Baru 3 Rangkaian KRL Jabodetabek Asal China. (Liputan6.com/Abdillah/Gotri)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya