Menelusuri Proses Panjang di Balik Layar Lyora: Penantian Buah Hati

Para pemain dan filmmaker Lyora: Keajaiban yang Dinanti berusaha semaksimal mungkin dalam memproduksi film Indonesia pertama yang mengangkat tentang perjuangan IVF.

oleh Hosana Solagracia SifraDiterbitkan 05 Agustus 2025, 11:00 WIB
Film Lyora: Penantian Buah Hati karya sineas Pritagita Arianegara dibintangi Marsha Timothy dan Darius Sinatyhrya. Mereka memerankan pejuang garis dua. (Foto: Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Lyora: Penantian Buah Hati siap menyajikan kisah menarik untuk ditonton pecinta film Indonesia. Film ini diangkat dari buku karya Fenty Effendy berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti

Film ini dikembangkan menjadi naskah layar lebar oleh Titien Wattimena dan Priska Amalia. Lyora: Penantian Buah Hati menjadi karya kolaborasi rumah produksi Jarasta Enterprise, Paragon Pictures, dan Ideosource Entertainment. 

Disutradarai Pritagita Arianegara dan diperankan para pemain dengan jam terbang tinggi, Lyora: Penantian Buah Hati jadi film drama pertama di Indonesia yang mengangkat topik IVF alias program bayi tabung.

Proses produksi Lyora: Penantian Buah Hati terbilang panjang dari riset mengenai isu, reading naskah, hingga akhirnya syuting. Marsha Timothy dan Darius Sinathrya dipercaya sebagai pemeran utama.


Awal Produksi

Suasana konferensi pers film Lyora: Penantian Buah Hati. (Foto: Liputan6/Hosana Solagracia Sifra)

“Dari survei kita juga tahu bahwa masalah fertilitas ini akhirnya jadi salah satu faktor terbanyak perceraian atau poligami di Indonesia. Jadi yang selalu disalahkan perempuan, padahal bikin anak kan juga laki perempuan, kenapa lakinya enggak pernah disalahkan?” kata produser Robert Ronny.

Sang sutradara, Pritagita Arianegara mengarahkan tim penulis untuk menampilkan emosi yang benar-benar bisa terasa ke penonton.

“Jadi bagaimana rasanya rumah tangga yang mereka saling support antara Mutia dan Fajri. Tapi kebayang enggak sih sesupport-supportnya pasti akan ada yang namanya at the lowest level. Itu sih sebenarnya mengajak untuk merasakan menjadi Mutia dan Fajri,” ujar Pritagita Arianegara.


Berusaha Memahami Perasaan

Selain produser, tim penulis film ini melakukan riset untuk bisa memahami perasaaan pasangan yang mengalami hal serupa dengan film ini. Tak hanya menyorot mereka yang berjuang lalu berhasil mendapat momongan, tapi juga pasutri yang hingga kini terus berusaha.

“Kami juga fokus kepada yang masih berjuang dan bagaimana mereka terus berharap, masih percaya pada harapan dan mimpi-mimpi,” Titien Wattimena menyambung. Priska Amalia menambahkan, naskah film ini bicara harapan, ketakutan, hingga perjuangan.

“Yang mungkin cukup mengagetkan, banyak temanku di usia 20 tahun itu ternyata punya masalah infertilitas sendiri. Akhirnya aku mulai membuka ruang diskusi dengan mereka. Ternyata kita mencoba untuk merepresentasikan harapan, ketakutan, dan perjuangan mereka dalam skrip ini,” urainya.


Cerita dari Para Pemain

Dalam film Lyora: Penantian Buah Hati, Marsha Timothy memerankan Meutya. Tokoh ini merefleksikan perjuangan mendapat momongan, memaafkan diri sendiri dan tidak menyalahkan diri sendiri.

“Menjadi sadar bahwa kita itu harus punya rasa cukup. Walau mungkin ini untuk para perempuan yang belum dikarunia anak, tapi untuk belajar rasa cukup dan memaafkan diri sendiri, tidak menyalahkan diri sendiri,” Marsha Timothy menuturkan.

Darius Sinathrya menambahkan, tokoh Fajri mengingatkannya tentang peran suami dalam rumah tangga. Momongan bukan tanggung jawab satu pihak yakni istri. Suami juga memegang peran besar.

“Perjalanan ini dan tanggung jawab ini bukan cuma milik satu orang, bukan cuma milik istri, tapi juga suami yang sangat sayang. Kadang kita sebagai laki-laki kan pasangannya selalu dituntut untuk bisa jadi pemimpin, jadi orang yang selalu hadir dengan solusi,” pungkasnya.

Jumlah produksi film Indonesia, berapa banyak? (Liputan6.com/Trie yas)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya