Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta per Maret 2025. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 0,2 juta orang dari September 2024. Dalam presentase, tingkat kemiskinan nasional turun 0,1 persen dari 8,47 persen dari periode sebelumnya.
Menteri Sosisl Saifullah Yusuf atau Gus Ipul membenarkan satu-satunya yang dapat dijadikan acuan data kemiskinan berasal dari BPS.
Advertisement
"Memang yang diberi mandat adalah BPS. Kita percayakan saja dengan BPS. Karena kami yakin BPS bekerja dengan menggunakan standar-standar statistik yang diperlukan, yang dibutuhkan. Jadi ya kita percaya karena yang diberi mandat," kata Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (29/7/2025).
Gus Ipul menegaskan, pihaknya tidak mempunyai parameter sendiri untuk menentukan data orang miskin. Sebab jika punya parameter sendiri, maka hal itu bisa keliru.
"Kalau kita buat ukuran sendiri malah keliru. Kalau memang ingin mendapatkan penjelasan lebih dalam lagi tentang kriteria standar itu bisa langsung ke BPS. Tapi kalau kami standarnya memang dari BPS," tegas dia.
Data Bansos
Meski begitu, Gus Ipul menyebut data BPS berbanding lurus dengan penerima bantuan sosial (bansos). Data terbaru, sebanyak 1,9 juta penerima bansos kini masuk dalam kriteria tidak layak lagi sebagai penerima.
"Hasil ground check, kami temukan 1,9 juta misalnya tidak lagi layak menerima bansos. Kita temukan karena kerja sama di lapangan dengan BPS dan kami sering menyampaikan bahwa data ini data dinamis," ujar dia.
Gus Ipul berharap, data yang dipegang Kemensos makin valid. Tujuannya, agar penerima bansos bisa lebih tepat tujuan.
"Insya Allah data kita akan makin valid.Mari kita mulai memutakhirkan data secara bersama-sama baik oleh pemerintah daerah, oleh kementerian sosial dan juga kementerian yang lain. Ada partisipasi masyarakat, kita saling cross check ke lapangan juga," tutup Gus Ipul.