Liputan6.com, Jakarta - Ketua Yayasan Institut Peradaban yang juga Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014) Dipo Alam, mengatakan sebulan lalu, titik konflik dunia masih cukup jauh dari Indonesia. Tapi seminggu ini, bara konflik itu sudah sampai di perbatasan Kamboja dan Thailand.
Menurutnya, adalah peristiwa besar bagi Asia Tenggara, khususnya bagi organisasi ASEAN. Untuk pertama kalinya sejak 1967, sengketa sesama anggota ASEAN gagal diselesaikan lewat jalur konsensus dan pecah menjadi konflik bersenjata.
Advertisement
“Banyak negara saat ini berada di ambang kondisi negara gagal (failed states) akibat berbagai krisis yang berlangsung. Salah satu eksesnya adalah terus meningkatnya jumlah pengungsi (refugee) dari tahun ke tahun,” jelas Dipo Alam, dalam keterangan tertulis, Senin (28/7/2025).
Dipo Alam menyatakan menghadapi situasi yang terus meruncing ini, dia melihat berbagai organisasi regional dan multilateral telah kehilangan wibawa dan pengaruhnya.
“Kita memerlukan gerakan diplomasi yang melibatkan warga dunia, bukan hanya diplomasi politik antar-negara. Kita perlu koalisi global untuk meredakan ketegangan dunia,” sambungnya.
Dinamika
Dipo mengatakan berbagai dinamika tersebut, bukan lagi sekadar peristiwa politik sektoral, melainkan ancaman eksistensial bagi peradaban.
“Kita tahu, jika konflik berskala besar benar-benar meletus, apalagi sebagian ketegangan yang telah terjadi saat ini melibatkan negara-negara yang memiliki persenjataan nuklir, maka tidak ada satu pun bangsa yang akan keluar sebagai pemenangnya,” jelasnya.
Celakanya, menghadapi situasi ini, berbagai organisasi multilateral kehilangan daya dan kepercayaan.
“Institut Peradaban melihat bahwa jalan keluar dari krisis ini bukan hanya milik negara-negara besar. Dunia saat ini memerlukan kepemimpinan moral yang mengedepankan kebijaksanaan, bukan kekuatan; mengedepankan empati, dan bukannya dominasi."