Liputan6.com, Jakarta- FC Barcelona secara mengejutkan mengumumkan pembatalan pertandingan pramusim yang sangat dinantikan melawan klub Jepang, Vissel Kobe. Keputusan drastis ini diambil oleh pihak klub setelah adanya "pelanggaran kontrak serius" yang dilakukan oleh promotor penyelenggara acara tersebut.
Insiden ini sontak menimbulkan gelombang kebingungan dan kekecewaan di kalangan penggemar sepak bola, terutama bagi para pendukung setia Barcelona di seluruh Asia. Laga persahabatan yang seharusnya menjadi bagian krusial dari persiapan tim menjelang musim kompetisi baru ini terpaksa ditiadakan karena permasalahan serius yang terjadi di luar lapangan hijau.
Advertisement
Wakil Presiden Barcelona, Rafa Yuste, menegaskan bahwa klub tidak akan melanjutkan perjalanan ke Jepang lantaran promotor dianggap tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Pihak klub dengan tegas menyatakan bahwa mereka harus membela kepentingan dan integritas institusi di tengah situasi yang tidak menguntungkan serta merugikan ini.
Pelanggaran Kontrak Serius dan Identitas Promotor
FC Barcelona secara resmi mengungkapkan bahwa mereka terpaksa menangguhkan partisipasi dalam pertandingan yang seharusnya digelar di Jepang karena adanya pelanggaran kontrak serius dari pihak promotor. Meskipun detail spesifik pelanggaran tidak diuraikan secara publik oleh klub, berbagai sumber terpercaya mengindikasikan bahwa masalah utama adalah kegagalan promotor dalam memenuhi kewajiban pembayaran yang telah dijanjikan kepada klub untuk partisipasi mereka dalam pertandingan tersebut.
Promotor yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan tur di Jepang awalnya diidentifikasi sebagai YASUDA Group. Namun, perusahaan pengorganisir tur Asia, D-Drive, kemudian merilis pernyataan resmi yang menjelaskan bahwa pertandingan antara Vissel Kobe dan FC Barcelona awalnya diusulkan oleh Yasuda Group.
Dalam pernyataannya, D-Drive menuduh Yasuda Group melakukan tindakan penipuan dengan menyediakan dokumen palsu dan secara sengaja tidak mengirimkan dana pembayaran yang seharusnya diterima. Mereka secara gamblang menyatakan bahwa pembayaran penuh yang dijadwalkan tidak pernah tiba, dan Yasuda Group berulang kali memberikan dokumen yang tidak valid serta dipalsukan, menipu mereka dengan klaim palsu bahwa transfer keuangan telah dilakukan ke Korea.
Pihak D-Drive juga mengklaim memiliki rekaman audio yang signifikan dari salah satu karyawan Yasuda Group yang secara eksplisit mengakui bahwa direktur eksekutif grup tersebut pada akhirnya tidak mengirimkan dana yang dijanjikan. Bukti ini, menurut D-Drive, secara jelas dan tak terbantahkan membuktikan adanya penipuan yang disengaja dalam transaksi tersebut, yang sangat merugikan semua pihak.