Liputan6.com, Sumedang - Sumedang merupakan sebuah kota kecil di Jawa Barat yang cukup terkenal dengan kuliner khasnya yang legendaris. Di antara berbagai pilihan makanan yang ditawarkan Tahu Bungkeng menjadi salah satu hidangan ikonik yang wajib dicoba saat berkunjung ke kota ini.
Sebagai informasi, tahu Bungkeng bukan sekadar tahu biasa melainkan tahu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak puluhan tahun lalu. Keunikan rasanya yang khas membuatnya tetap eksis di tengah banyaknya kuliner modern.
Advertisement
Tahu Bungkeng pertama kali diperkenalkan oleh keturunan Tionghoa pada awal abad ke-20. Nama “Bungkeng” sendiri berasal dari nama pendirinya yaitu Bungkeng yang mengolah tahu dengan resep turun-temurun khas keluarga. Tahu ini memiliki tekstur yang lembut di dalam namun tetap renyah di luar ketika digoreng. Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner autentik.
Selain rasanya yang gurih dan lembut keistimewaan tahu Bungkeng terletak pada bahan-bahan alami yang digunakan tanpa bahan pengawet. Makanan ini biasanya dinikmati dengan sambal kecap atau cabai rawit sebagai pendamping. Namun ada pula yang menghidangkannya bersama nasi dan lauk lainnya sebagai menu makan siang sederhana tapi nikmat. Di beberapa warung atau toko oleh-oleh tahu ini juga dijual dalam bentuk matang maupun dalam bentuk mentah yang bisa digoreng di rumah.
Karena keunikan dan nilai sejarahnya Tahu Bungkeng kini telah menjadi bagian dari identitas kuliner Sumedang. Wisatawan lokal maupun mancanegara sering menjadikannya sebagai oleh-oleh khas ketika berkunjung ke kota ini.
Mengenal Tahu Bungkeng Perintis
Tahu Bungkeng merupakan salah satu ikon kuliner legendaris dari Sumedang, Jawa Barat. Nama "Bungkeng" berasal dari sang pendiri, yakni seorang keturunan Tionghoa bernama Ong Bungkeng yang merintis usaha tahu sejak awal abad ke-20 tepatnya pada tahun 1917.
Awalnya, usaha ini dijalankan secara sederhana dari rumah dan dipasarkan ke tetangga sekitar. Seiring waktu, kelezatan tahu buatannya menyebar dari mulut ke mulut dan menarik banyak pelanggan. Usaha ini tidak lepas dari budaya kuliner Tionghoa yang dibawa ke tanah Sunda dan dikolaborasikan dengan bahan-bahan lokal. Ong Bungkeng mengadaptasi teknik pengolahan tahu dari Tiongkok namun memodifikasinya agar sesuai dengan lidah masyarakat.
Resep tahu yang digunakan pun diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga keasliannya hingga kini. Itulah sebabnya, meski telah berusia lebih dari seabad rasa khas Tahu Bungkeng tetap konsisten dan jadi incaran ketika berkunjung ke Sumedang.
Daya Tarik Tahu Bungkeng
Tahu Bungkeng memiliki daya tarik utama pada kelezatan rasa dan kualitas olahan yang konsisten sejak dulu. Makanan ini dibuat dengan cara tradisional tanpa bahan pengawet dan memiliki tekstur yang khas. Tahunya bertekstur padat namun lembut dengan rasa gurih alami yang muncul dari kualitas kedelai pilihan. Cita rasanya yang tidak berubah meskipun telah bertahan lebih dari satu abad menjadikannya kuliner legendaris yang dicari oleh para penikmat makanan.
Selain rasanya, daya tarik Tahu Bungkeng juga terletak pada sejarah dan keberhasilannya dalam menjaga resep bertahun-tahun. Tahu ini bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari sejarah kuliner Sumedang yang diwariskan turun-temurun oleh keluarga Ong Bungkeng.
Kemudian pengunjung yang datang ke tempat produksinya bukan hanya bisa mencicipi tahu tapi juga merasakan pengalaman menikmati kuliner dengan nilai historis yang tinggi. Melansir dari ulasan Google, cabang pusatnya meraih rating 4,5 dari 1.307 pengguna.
Lokasi Tahu Bungkeng
Tahu Bungkeng berlokasi di Jl. Sebelas April No. 53, Kotakaler, Kec. Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tempat ini buka setiap hari pada pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Lokasinya bisa ditemukan dengan cukup mudah karena bangunannya berdiri tepat di pinggir jalan utama. Pengunjung yang datang juga bisa melihat dengan jelas penanda tempatnya yang khas.
Kemudian dari Alun-Alun Sumedang lokasinya cukup mudah diakses hanya sekitar 1,9 km atau 5 menit berkendara. Selain itu, tempatnya juga cukup dekat dari Taman Endog sekitar 240 meter atau 1 menit berkendara dan 3 menit berjalan kaki. Sementara itu, perjalanan dari pusat kota Bandung bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 54 km atau 1 jam 2 menit perjalanan.