Liputan6.com, Jakarta - Clubfoot atau kaki pengkor adalah kelainan bawaan yang menyebabkan bentuk kaki anak abnormal.
Kondisi kaki anak yang cenderung mengarah ke dalam tidak dapat sembuh sendiri. Meski begitu, operasi bukan satu-satunya cara memperbaiki kaki pengkor.
Advertisement
Dokter spesialis ortopedi pediatrik di Eka Hospital BSD, Patar Parmonangan Oppusunggu, menjelaskan beberapa cara lain yang bisa ditempuh, yakni:
Pemasangan Gips
Pemasangan gips dilakukan untuk mengembalikan bentuk kaki anak. Dokter akan membuat beberapa gips yang menyesuaikan dengan pertumbuhan kaki bayi.
Gips pertama akan dipasang pada minggu pertama ataupun kedua setelah bayi dilahirkan. Setelah pemakaian selama seminggu, bayi perlu dibawa konsultasi ke dokter untuk melakukan gerakan-gerakan sederhana, peregangan, dan mengganti dengan gips yang baru. Setidaknya, bayi akan menggunakan sekitar 5-7 gips selama beberapa minggu atau bulan.
Penggunaan Penyangga
Ketika kaki bayi berada dalam posisi yang tepat, dokter spesialis ortopedi anak akan mengganti gips dengan penyangga, atau disebut dengan orthotic.
Penyangga ini terbuat dari besi dan terhubung dengan sepatu khusus yang akan menjaga posisi kaki anak agar tidak kembali ke bentuk awal.
Pemakaian penyangga dapat berlangsung selama 3 bulan penuh selama 24 jam. Setelahnya, penyangga mungkin hanya akan dipakai pada malam hari, sekitar 3-5 tahun.
“Apabila kedua cara di atas tidak berhasil mengembalikan bentuk kaki pengkor pada anak, operasi mungkin saja diperlukan,” ujar Patar, mengutip keterangan pers, Selasa (22/7/2025).
Mengenal Kaki Pengkor pada Anak
Patar menambahkan, kaki pengkor adalah kelainan bawaan yang menyebabkan bentuk kaki anak abnormal.
“Kaki pengkor adalah kondisi yang menyebabkan bentuk kaki atau telapak kaki anak mengarah ke arah dalam. Anda akan dapat melihat telapak kaki anak Anda yang menghadap ke samping atau ke atas,” jelas Patar.
Kondisi ini dalam bahasa medis disebut dengan congenital talipes equinovarus. Sesuai namanya, ini adalah disabilitas bawaan. Artinya, anak terlahir dengan kondisi ini.
Kaki pengkor adalah kondisi yang termasuk langka. Tingkat keparahannya bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Clubfoot dapat terjadi di salah satu kaki ataupun keduanya. Kondisi ini bisa membuat anak kesulitan untuk berjalan bahkan berdiri. Sayangnya, kaki pengkor tidak bisa sembuh dengan sendirinya.
Namun, pengobatan yang dilakukan sedini mungkin bisa memberikan hasil yang baik bagi perkembangan kaki anak.
“Anak membutuhkan pengobatan sedini mungkin agar kaki pengkor tidak memengaruhi kemampuannya dalam berjalan dan menimbulkan masalah kesehatan lain,” kata Patar.
Penyebab Kaki Pengkor pada Anak
Kaki pengkor pada anak terjadi karena otot paha yang terhubung dengan tulang kaki memendek dan menjadi kaku. Hal inilah yang membuat kaki jadi terpuntir ke arah dalam.
Hingga kini, para ahli belum mengetahui dengan pasti hal yang jadi penyebab pasti. Kebanyakan kasus clubfoot terjadi dengan sendirinya begitu anak dilahirkan.
Penyebab utamanya adalah genetik. Artinya, risiko seorang anak mengalami clubfoot lebih besar ketika dalam keluarga kondisi ini juga terjadi.
Selain itu, kaki pengkor juga lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan bayi perempuan.
Kaki pengkor dapat terdeteksi pada saat pemeriksaan kehamilan, yaitu lewat USG pada usia kehamilan yang ke-20. Jika tidak terlihat dari USG, kaki pengkor dapat terdeteksi begitu anak dilahirkan.
Beberapa kondisi lain saat kehamilan yang juga dapat menyebabkan anak berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini, yaitu:
- Air ketuban yang sedikit.
- Terinfeksi virus Zika.
- Terpapar asap rokok secara intens ataupun alkohol.
Apa Saja Jenis Kaki Pengkor?
Seringnya, kaki pengkor pada anak tidak disertai dengan kondisi medis lainnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, kaki pengkor juga terjadi karena masalah kesehatan penyerta lainnya.
Hal itulah yang membuat kondisi ini dikelompokkan ke dalam dua tipe yang berbeda, yaitu:
Clubfoot Idiopathic atau Terisolasi
Jenis kaki pengkor yang terjadi begitu saja dan tidak diketahui penyebabnya. Biasanya, tidak ada gejala kesehatan lain yang menyertai.
Non-isolated Clubfoot
Clubfoot yang terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan lainnya, seperti spina bifida, trisomi 18, atau permasalahan sendi.