Inovasi Boneka Pintar untuk Respons Masalah Kesehatan Mental Gen-Z, Bisa Deteksi Level Depresi

Kalau bentuknya boneka, pengguna akan terasa ada wujud yang bisa untuk meluapkan keluh kesahnya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 14 Juli 2025, 19:00 WIB
Inovasi Boneka Pintar untuk Respons Masalah Kesehatan Mental, Bisa Deteksi Level Depresi. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta Masalah kesehatan mental yang marak terjadi di kalangan generasi Z menarik  perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Airlangga (Unair).

Guna merespons masalah tersebut, tim ini berinovasi menciptakan Intelligence Doll (boneka pintar) dan berhasil membawa mereka lolos pendanaan PKM-KC. Tim tersebut terdiri dari Muhammad Nur Aufa Habibi, Arya Maulana Al Hakim, Afdal Lunasri, Edbert Fernando, dan Aqila Fayyaza Nur Husna.

Ketua tim,  Muhammad Nur Aufa Habibi, menyampaikan bahwa boneka yang dikembangkan itu memanfaatkan teknologi deep learning untuk menganalisis data wajah dan suara dari penggunanya.

“Hasil analisis tersebut akan menghasilkan output berupa suara sebagai respons percakapan dengan pengguna. Selain itu, hasil percakapan akan menghasilkan klasifikasi level depresi seperti ringan, sedang, atau berat. Dari hasil klasifikasi tersebut, boneka akan merespons sesuai level depresi,” jelas Aufa mengutip laman Unair, Senin (14/7/2025).

Aufa menambahkan, selama ini kebanyakan solusi untuk mengatasi masalah kesehatan mental masih berupa respons interaktif menggunakan aplikasi. Sehingga, tim ini mencoba membuat hal baru dengan menghadirkan wujud boneka.

“Kalau bentuknya boneka, pengguna akan terasa ada wujud yang bisa untuk meluapkan keluh kesahnya. Sebab berdasarkan literatur, boneka dapat menghasilkan rasa nyaman pada pemiliknya,” jelasnya.

 

Peningkatan Akurasi Deteksi Boneka Pintar

Berdasarkan penelitian terakhir, lanjut Aufa, boneka pintar masih digunakan untuk pasien demensia pada lansia. 

Oleh karena itu, pada kesempatan ini mereka berinovasi untuk menggunakan boneka pintar tetapi berfokus untuk digunakan pada orang yang mengalami gangguan mental depresi.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) itu mengungkapkan bahwa tantangan mereka setelah lolos pendanaan adalah soal peningkatan akurasi deteksi dari Intelligence Doll.

Untuk itu, mereka berencana akan mengambil lebih banyak sampel data berupa ekspresi dan suara dari orang-orang yang sudah terdiagnosis depresi oleh ahli. Dengan begitu, diharapkan akurasi Intelligence Doll semakin baik.

 

Teman Bicara untuk Para Gen-Z

Aufa menyatakan bahwa mereka sangat senang telah berhasil lolos tahap pendanaan PKM-KC itu.

“Bahkan kami tidak menyangka bisa lolos. Sebab melihat tim kami yang belum memiliki pengalaman PKM sebelumnya,” ujarnya. 

Mereka berharap prototype Intelligence Doll itu bisa dikomersilkan sehingga dapat membantu mengurangi gangguan mental terutama depresi pada kalangan Generasi Z.

“Kami berharap Intelligence Doll bisa menjadi teman bicara untuk para Gen-Z yang mengalami gangguan mental depresi,” tutupnya.

Infografis Ciri-Ciri Orang Miliki Gangguan Kesehatan Mental. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya