Liputan6.com, Jakarta Kurator seni lukis, Timotius Suwarsito menyaksikan langsung perjuangan pelukis disabilitas, Gadis Dharsono dalam melahirkan sebuah karya.
Pria yang akrab disapa Kak Toto pertama kali berjumpa dengan Gadis pada 2020. Menurutnya, satu kali mengangkat kuas bak mengangkat barbel dengan berat 5kg bagi Gadis akibat cerebral palsy (CP) yang disandangnya.
Advertisement
“Satu angkatan kuas seperti barbel 5 kilo, dia akan berjuang dengan fokusnya, dengan otot-ototnya. Makanya, abis ngelukis kayak abis nge-gym. Kalau tidak punya semangat yang hebat mungkin dia udah menyerah. Dengan semangatnya dia ingin berbagi cerita tentang dunianya,” kata Toto dalam pembukaan pameran tunggal pertama Gadis Dharsono pada Jumat (11/7/2025).
Sang ibu, Poppy Dharsono berkisah bahwa putrinya memiliki banyak keinginan. Ingin menjadi penyanyi, penari, dan bintang film. Namun, Poppy menilai bahwa hal yang paling mungkin dilakukan adalah melukis.
“Dia belajar, apa yang bisa dia pelajari, saya kasih. Tapi yang paling bisa secara teknik organnya dipakai adalah melukis. Kalau menyanyi enggak bisa, buka suara aja enggak bisa,” kata Poppy kepada Disabilitas Liputan6.com dalam kesempatan yang sama.
Poppy menambahkan, Gadis memang penyandang CP yang non-verbal, tidak dapat berbicara tapi dapat melihat, mendengar, dan berjalan dengan bantuan tongkat serta pendamping.
Meski begitu, Toto melihat bahwa semua cita-cita Gadis telah diekspresikan dalam bentuk lukisan.
“Tadi ibu mengatakan, dia pengen menyanyi, menari, sebenarnya dalam lukisan-lukisan ini semua cita-citanya sudah tercapai. Peristiwa-peristiwa yang ia alami terekam dalam bawah sadar dan diepresikan jadi lukisan,” ujar Toto.
Gelar Pameran Lukis Tunggal Pertama
Baru-baru ini, Gadis menggelar pameran lukis tunggal pertamanya di Institut Francais Indonesie (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan.
Pameran bertajuk Joy In Color menampilkan puluhan lukisan karya Gadis dalam 15 tahun berkarya. Lukisnya menghadirkan beragam figur, mulai dari gedung, rumah, menara Eiffel, kucing, manusia, pemandangan, bunga, hingga ikan.
Bagi Gadis, melukis merupakan bentuk kegembiraan sebab lukisan karyanya bukan semata untuk dimengerti tetapi untuk dirasakan sehingga sangat sentimental. Sejak kecil Gadis memang telah karib dengan proses berkesenian, khususnya mode sebab melihat sang ibu dalam merancang busana.
"Gadis lebih punya hasrat dalam melukis. Sebagai orangtua, saya belajar banyak dari Gadis bahwa ekpresi tak harus sempurna dan keberanian menunjukkan diri kita apa adanya merupakan bentuk seni paling jujur," kata Poppy yang merupakan perancang busana sekaligus Presiden Indonesia Fashion Week.
Sumbangkan Hasil Penjualan Karya untuk Teman Disabilitas
Kepala Cabang IFI Wijaya, Syarah H. Andriani, menilai bahawa lukisan Gadis lebih dari permainan warna. Sebab, seluruh karyanya merupakan perjalanan hidupnya dengan goresan penuh warna.
"IFI Wijaya menyambut baik hadirnya karya lukis Gadis Dharsono pada pameran perdananya. IFI punya komitmen kuat terhadap inklusivitas," kata Syarah.
Pada pameran lukisan perdana tersebut, Gadis berkomitmen penuh untuk tetap menguatkan ekosistem disabilitas dengan menyumbangkan seluruh hasil penjualan karya lukisnya kepada teman-teman disabilitas paling membutuhkan. Kekhasan karya lukis Gadis Dharsono dapat disaksikan di ruang pamer IFI Wijaya dari 11-26 Juli 2025.
"Semoga pameran ini bukan hanya pencapaian pribadi Gadis, tetapi juga menjadi pengingat bahwa manusia dengan segala kekhasannya punya hak untuk bersuara. Lewat seni, Gadis telah bersuara. Dan suara itu dalam segala kejujurannya patut untuk kita dengarkan," pungkas Poppy.