Piala Presiden 2025: Sepak Bola untuk Pemain, Penonton, hingga Masyarakat Sekitar

Final Piala Presiden 2025 segera menutup rangkaian turnamen yang berlangsung sejak awal Juli.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 14 Juli 2025, 15:18 WIB
Sejumlah penonton antusias menyambut salah satu pemain Oxford United yang memnagi jersey usai laga perdana Grup A Piala Presiden 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (6/7/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Tirai kompetisi Piala Presiden 2025 yang berlangsung sejak awal Juli akan segera ditutup. Digelar pada Minggu malam, 13 Juli 2025, di Stadion Si Jalak Harupat, partai final mempertemukan dua tim undangan dari luar negeri, yaitu Oxford United asal Inggris dan Port FC dari Thailand.

Pertemuan kedua tim asing di final menjadi catatan bersejarah bagi ajang ini. Bukan hanya menunjukkan kualitas peserta internasional, tapi juga menandai makin terbukanya panggung sepak bola pramusim Indonesia terhadap dunia luar. Kehadiran Oxford dan Port FC juga mengangkat gengsi kompetisi.

Namun, euforia tak hanya datang dari 90 menit atau lebih pertandingan. Penyelenggara menyiapkan penutupan yang lebih dari sekadar seremoni, yakni mulai dari atraksi drone, aksi juggling massal, hingga pesta visual yang menghibur. Semua dirancang untuk meninggalkan kesan mendalam—bagi pemain, penonton, hingga masyarakat sekitar.


Atraksi Udara, Inspirasi dari Langit Bandung

Erick Thohir (tengah) bersama Menpora Dito Ariotedjo (kiri) dan Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait (kanan) dalam opening ceremony Piala Presiden 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (06/07/2025). (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Malam final bukan cuma milik pemain. Ribuan pasang mata juga akan tertuju ke langit Stadion Si Jalak Harupat, tempat atraksi drone disiapkan sebagai bagian dari closing ceremony yang megah. Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait, menyampaikan antusiasmenya terhadap atraksi ini.

"Doain ya dronenya lancar besok ya. Kita buat drone yang mudah-mudahan bisa dinikmati warga Kota Bandung," ujar Maruarar sehari jelang tirai penutup kompetisi. "Kalau dari ratingnya, katanya cukup tinggi lah kami ini. Rating TV-nya, ya. Terima kasih itu udah buat SCTV sama Indosiar dari Bu Siwi, ratingnya bagus, makanya sponsornya happy semua ini."

Tak berhenti di udara, aksi juggling massal juga digelar di dalam stadion. Ribuan anak-anak ikut ambil bagian, membawa semangat dan mimpi besar ke rumput hijau. "Saya kasih suatu saat dengan doa dan usaha. Kalian bisa jadi salah satu pemain dari 11 pemain itu yang ada di sini," kata Maruarar.

Atraksi-atraksi ini bukan sekadar tontonan. Di balik itu, ada semangat edukatif untuk menanamkan harapan, memotivasi generasi baru, serta memperkuat hubungan antara sepak bola dan masa depan anak-anak Indonesia.


Sepak Bola dan Dampak Ekonomi Rakyat

Para pelaku UMKM di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung turut mendapatkan manfaat dari digelarnya Piala Presiden 2025. (Bola.com/Muhammad Faqih)

Salah satu nilai lebih dari Piala Presiden 2025 adalah keberpihakannya pada masyarakat kecil. Seperti ditekankan Maruarar, ajang ini tidak disokong dana APBN, APBD, ataupun BUMN—tapi mampu memberikan dampak riil pada perekonomian lokal.

Lanjut Baca:

"Seperti pesan presiden, kan harus berdampak kepada rakyat kecil. Ya kepada ojek-ojek, kepada hotel, perumahan yang ada. Mungkin sewa-sewa, kemudian buat makanan-makanan, pedagang kaki lima, asongan," ujar Maruarar. UMKM yang membuka lapak di sekitar stadion ikut merasakan keuntungan meskipun panitia mengakui dampaknya bisa lebih besar bila tim tuan rumah Persib Bandung lolos ke final. "Kalau Persib masuk pasti lebih ramai lagi..., tapi ya lumayan lah ya," tambahnya. Kebijakan seperti tidak memungut uang sewa kepada pedagang, memperlihatkan komitmen penyelenggara menjadikan sepak bola sebagai penggerak ekonomi rakyat. Piala Presiden hadir bukan sekadar hiburan elite, tapi juga pemantik roda ekonomi mikro.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya