Denny JA: Kemandirian Energi Adalah Sebuah Keharusan

Denny JA menekankan bahwa kata 'mandiri' bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan menyangkut daya hidup suatu bangsa.

oleh Tim NewsDiperbarui 11 Juli 2025, 08:14 WIB
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny Januar Ali atau Denny JA, diangkat menjadi komisaris utama sekaligus komisaris independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Denny JA bicara kemandirian energi adalah sebuah keharusan.

“Jika tak ada penemuan lahan minyak baru, tak akan ada kemandirian energi. No Discovey, No Sovereignty,” Kata Denny JA dalam acara perkenalan pengurus baru PHE, Jakarta, Kamis (10/7/2025). Acara tersebut turut dihadiri oleh Direktur Utama PHE Awang Lazuardi, jajaran direksi, komisaris, serta para pekerja PHE.

Indonesia memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari. Sementara kebutuhan riil nasional mencapai 1,2 hingga 1,4 juta barel per hari. Artinya, sekitar 40 persen, bahkan lebih masih bergantung pada impor. Bila terjadi gejolak global, ketahanan energi nasional bisa terguncang.

“Harus ada penemuan lahan minyak baru, untuk mengurangi impor itu.”

Ini sebuah momentum untuk menyatukan semangat dan visi baru dalam mengelola energi bangsa.

Denny JA menekankan bahwa kata 'mandiri' bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan menyangkut daya hidup suatu bangsa.

“Kemandirian, itulah kata kunci. Mandiri ekonomi. Mandiri pangan. Dan yang paling relevan bagi kita di sini: mandiri energi.”

Gagasan ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang berulang kali menegaskan pentingnya ketahanan dan kemandirian nasional sebagai fondasi strategis pembangunan Indonesia.

Di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia, kemandirian energi bukan lagi opsi, tetapi telah menjadi keharusan kebijakan.

Tanpa itu, bangsa ini akan terus berada dalam posisi rentan—mudah digoyahkan oleh krisis eksternal.

Denny JA menyampaikan kekhawatirannya atas tren jangka panjang produksi migas nasional. Pada era 1970-an, Indonesia mampu memproduksi hingga 1,2 juta barel per hari. Hari ini, angka tersebut turun setengahnya—sebuah kemunduran signifikan dalam 50 tahun.

"Sementara negara-negara lain justru terus melaju: Amerika Serikat: 12 juta barel per hari. Arab Saudi: 10 juta barel per hari. Iran (peringkat ke-10 dunia) 2,5 juta barel per hari. Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 5–20 persen dari kapasitas negara-negara tersebut."

 

3 Pembeda Utama

Ia mengidentifikasi tiga pembeda utama antara negara yang menanjak dan negara yang stagnan:

1. Eksplorasi dan Teknologi

Negara-negara maju terus menggali potensi energi baru dan mengadopsi teknologi eksplorasi serta produksi paling mutakhir. Tanpa penemuan lahan baru dan teknologi yang sesuai, kemandirian energi hanya akan menjadi ilusi.

2. Tata Kelola dan Transparansi

Sektor energi harus dijalankan dengan prinsip check-and-balance. Jika dikuasai oleh oligarki yang lebih diuntungkan dari impor, maka kebocoran, inefisiensi, dan moral hazard akan menggerogoti fondasi produksi.

“Tanpa tata kelola yang sehat, produksi akan kalah oleh mafia impor.”

3. Stabilitas Kebijakan Jangka Panjang

Industri energi memerlukan arah kebijakan yang konsisten, lintas masa pemerintahan.

“Setiap ganti rezim, ganti kebijakan—itulah yang menghancurkan fondasi energi Venezuela.”

 

Strategi Komprehensif

Untuk mewujudkan kemandirian energi, Indonesia perlu mengadopsi strategi komprehensif yang mencakup percepatan eksplorasi lahan migas baru, pemberian insentif fiskal bagi investor energi, serta penguatan riset dan pengembangan teknologi eksplorasi domestik.

Selain itu, diversifikasi sumber energi menjadi keharusan. Misalnya dengan mempercepat transisi ke energi terbarukan seperti panas bumi, surya, dan bioenergi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Pemerintah juga perlu menetapkan roadmap energi nasional yang jelas, memastikan keberlanjutan kebijakan lintas pemerintahan, dan membangun ekosistem tata kelola yang transparan serta akuntabel.

"Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, dan lembaga riset harus diperkuat agar inovasi dan investasi berjalan beriringan demi ketahanan energi jangka panjang," pungkasnya.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya