Karya Bapa Begeg Bergaung di Ksirarnawa Lewat Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk

Pementasan diawali dengan Gending Gambang Misagagang, karya Bapa Begeg tahun 1956 yang diciptakan untuk lawatan Sekaa Gong Pangkung Tirta Kentjana ke luar negeri.

oleh Destarita RahmawatiDiterbitkan 13 Juli 2025, 07:00 WIB
Penampilan Tari Oleg Tamulilingan di Gedung Ksirarnawa dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47. (Liputan6.com / istimewa).

Liputan6.com, Denpasar - Panggung Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, menjadi saksi pergelaran istimewa yang memuliakan karya-karya emas I Wayan Begeg, maestro karawitan Bali asal Banjar Pangkung, Tabanan. Pada Selasa (8/7/2025), Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk dari Banjar Tunjuk Kaja, Tabanan, menghidupkan kembali warisan seni sang maestro melalui pementasan bertajuk "Pemuliaan Karya Maestro Bapa Begeg" dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47. 

Pertunjukan ini bukan sekadar seni panggung, melainkan sebuah upaya pelestarian budaya yang sarat makna. Pertunjukan yang melibatkan 27 penabuh dan 13 penari ini dipandu oleh pembina seni I Made Arnawa, SSKar., M.Sn. “Kami bawakan karya-karya orisinal Bapa Begeg, sebagai bentuk pemuliaan dan pengenalan ulang kepada generasi kini,” ujar Arnawa.

Guna memastikan keaslian, Arnawa berkolaborasi dengan penari dari Desa Delod Peken dan menggali rekaman-rekaman langka karya Bapa Begeg, termasuk yang tersimpan dari pentas di Amerika pada tahun 1957 dan 1962, hasil kerja sama dengan Perbekel Desa Delod Peken.

Pementasan diawali dengan Gending Gambang Misagagang, karya Bapa Begeg tahun 1956 yang diciptakan untuk lawatan Sekaa Gong Pangkung Tirta Kentjana ke luar negeri. Komposisi ini menghadirkan nuansa ritual yang kental, membawa penonton ke suasana klasik yang penuh rasa. 

Dilanjutkan dengan Tari Pendet Pangkung (1942), sebuah tari penyambutan yang diadaptasi dari tari pependetan sakral. Tari ini pernah dipentaskan di Betawi atas undangan pemerintah Jepang, dengan gerakan penari yang menabur bunga dalam sembah bhakti, menciptakan kesyahduan yang sederhana namun mendalam.

Puncak emosional pementasan terjadi saat Tari Oleg Tamulilingan ditampilkan. Menggambarkan kisah simbolik kumbang dan bunga, tarian ini dibawakan dalam versi klasik Tabanan yang mempertahankan format iringan asli. “Kami bawakan dengan cara lama, agar publik tahu bentuk awalnya,” kata Arnawa. Versi ini mengingatkan penonton pada kepekaan estetika yang menjadi ciri khas Bapa Begeg sebelum tarian ini berkembang dalam bentuk modern. 

Tak hanya karya Bapa Begeg, pergelaran juga menampilkan Tabuh Kreasi Ratna Wijaya, karya I Wayan Sinti dari tahun 1970-an. Komposisi ini menonjol dengan struktur musikal yang kompleks, mencakup gegineman, gegenderan, ocak-ocakan, hingga pengecet, yang memperkaya dinamika pertunjukan.

Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk, Banjar Tunjuk Kaja, Desa Tunjuk, Kabupaten Tabanan. Foto (Liputan6.com / istimewa)

Riset Mendalam

Sementara itu, Tari Kebyar Duduk, karya monumental I Ketut Mario (1925) dengan iringan karawitan garapan I Wayan Gejir dan I Wayan Sukra, menghadirkan kelincahan gerak dalam posisi duduk yang memukau, mencerminkan semangat pemuda Bali. 

Proses persiapan pementasan ini tidaklah mudah. Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk melakukan riset mendalam untuk menghidupkan kembali karya-karya langka Bapa Begeg. Rekaman bersejarah, seperti Gending Gambang Misagagang dan Tari Pendet Pangkung, menjadi acuan utama untuk memastikan keaslian gerak dan iringan. 

Kolaborasi dengan penari Desa Delod Peken juga dilakukan untuk menjaga pakem tradisional, sekaligus memberikan napas baru pada karya-karya tersebut. Pergelaran ini lebih dari sekadar hiburan, ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Dengan menghidupkan kembali karya-karya Bapa Begeg, Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk mengingatkan generasi muda akan kekayaan warisan budaya Bali.

Pementasan ini menjadi pengingat bahwa seni tradisional tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dikontekstualisasikan agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Melalui upaya ini, nilai-nilai luhur seni Bali terus terjaga, dan dedikasi seorang maestro seperti I Wayan Begeg tetap abadi dalam ingatan kolektif.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya